BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
warga Pekon Sampang Turus, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, harus menghadapi buruknya akses jalan untuk keluar-masuk pekon. Jalan kabupaten sepanjang lebih dari 2 kilometer yang menjadi akses utama warga hingga kini masih didominasi tanah merah, batu dan lumpur.
Kondisi tersebut semakin berat ketika hujan turun. Jalan berubah licin, lubang dipenuhi genangan dan sedikitnya tiga titik sungai yang harus dilalui warga dapat meluap sewaktu-waktu. Jembatan sementara yang selama ini menjadi akses penyeberangan bahkan beberapa kali rusak hingga hanyut terbawa banjir.
Bagi warga, persoalan tersebut bukan sekadar tentang jalan yang belum beraspal. Akses yang sulit turut memengaruhi aktivitas sekolah, pekerjaan, distribusi hasil pertanian, pelayanan kesehatan hingga penyaluran kebutuhan dasar masyarakat. Ketika hujan deras dan debit sungai meningkat, warga bahkan harus menunggu air surut sebelum dapat melintas.
Nanang, warga Sampang Turus, mengungkapkan masyarakat sudah terlalu lama menghadapi kondisi tersebut. Ia memiliki harapan pemerintah memberikan kepastian penanganan, bukan sekadar janji.
“Kami tak butuh janji, kami butuh bukti yang pasti. Jalan ini belum pernah diaspal. Kalau hujan, kami yang setiap hari melintas harus menghadapi lumpur dan jalan rusak,” kata Nanang, Senin (28/9/2026).
Selain kondisi jalan, keberadaan jembatan darurat juga menjadi persoalan yang terus menghantui warga. Fatir, warga lainnya, mengungkapkan jembatan yang digunakan masyarakat belum mampu memberikan kepastian akses ketika sungai meluap.
“Kami tidak punya jembatan yang benar-benar kuat. Yang ada jembatan darurat. Kalau banjir besar, jembatan itu hanyut. Kalau sudah begitu, kami sulit keluar dan masuk pekon,” ujarnya.
Terputusnya akses sungai tidak hanya menyulitkan kendaraan. Aktivitas masyarakat ikut terganggu, mulai dari anak-anak yang berangkat sekolah, warga yang membutuhkan layanan kesehatan hingga petani yang hendak membawa hasil pertanian keluar pekon. Salah satu titik yang paling dikhawatirkan warga adalah Tebing Kuning.
Jakar, warga Sampang Turus, memiliki harapan Tebing Kuning mendapat penanganan permanen, salah satunya melalui pengecoran beton agar lebih kuat dan aman dilalui.
“Tebing Kuning itu yang paling kami takutkan. Kami memiliki harapan titik itu bisa dicor beton supaya lebih kuat dan aman. Kalau hanya mengandalkan kondisi sekarang, apalagi saat hujan, warga sangat khawatir melintas,” katanya.
Persoalan akses juga dirasakan anak-anak sekolah. Untuk pendidikan dasar, warga masih dapat menyekolahkan anak mereka di SDN 1 Sampang Turus. Namun setelah lulus SD, mereka harus melanjutkan pendidikan ke SMP, SMA atau SMK di wilayah Wonosobo dengan melewati medan yang sama.
Riyan, pelajar asal Sampang Turus, mengungkapkan kondisi jalan membuat perjalanan ke sekolah semakin sulit ketika hujan atau sungai meluap. Ia memiliki harapan akses jalan dan jembatan segera diperbaiki.
“Kami ingin jalan diperbaiki dan jembatan dibuat permanen, supaya kami bisa pergi sekolah dengan aman dan tidak takut terlambat atau tidak bisa menyeberang saat hujan,” katanya.
Guru SDN 1 Sampang Turus, Tambat Hasmuni, mengungkapkan buruknya akses juga dapat menimbulkan persoalan bagi pelajar yang menggunakan sepeda motor. Ia pernah menjumpai anak SMP mengalami kerusakan rantai sepeda motor saat perjalanan menuju sekolah.
“Semoga ada yang memperhatikan kami guru-guru Sampang Turus dan anak-anak sekolah dari Sampang Turus menuju SMP dan SMA, SMK, untuk menuntut ilmu,” tutur Hasmuni.
Tidak hanya pendidikan, kondisi jalan dan jembatan juga menjadi persoalan serius ketika ada warga yang sakit. Medan sepanjang lebih dari 2 kilometer, ditambah penyeberangan sungai yang dapat terputus saat banjir, membuat warga harus mempertimbangkan kondisi akses sebelum membawa pasien keluar dari pekon.
Rahayu, warga setempat, memiliki harapan pembangunan daerah jalan dan jembatan tidak lagi ditunda karena menyangkut keselamatan warga.
“Kami ingin jalan yang layak dan jembatan yang aman. Jangan sampai anak-anak sekolah atau warga yang sedang membutuhkan pertolongan harus terhambat hanya karena jalan dan jembatan,” ujarnya.
Dampak lainnya dirasakan dalam distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG). Herman, warga Sampang Turus, mengungkapkan meluapnya Sungai Sampang Turus dapat membuat kendaraan tidak bisa melintas sehingga berpotensi mengganggu distribusi makanan bagi anak-anak PAUD dan siswa SDN 1 Sampang Turus.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena akses jalan dan jembatan berkaitan langsung dengan kelancaran pelayanan dasar masyarakat.
Aktivis Lembaga Analisis Kebijakan Publik, Panroyen, mengungkapkan persoalan Sampang Turus tidak dapat dilihat hanya sebagai masalah jalan yang belum diaspal. Menurut dia, kondisi infrastruktur tersebut berkaitan dengan berbagai kebutuhan dasar masyarakat.
“Jalan yang layak akan mempermudah mobilitas. Jembatan yang permanen akan mengurangi risiko akses terputus. Penanganan Tebing Kuning akan memberi rasa aman bagi warga,” tegas Panroyen. (*)