BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Empat belas tahun bukan perjalanan yang singkat. Sejak berdiri pada 17 September 2012, Kupastuntas.co telah melewati berbagai fase perubahan industri media. Dari masa ketika media cetak masih menjadi salah satu sumber utama informasi, pertumbuhan portal berita online, ledakan media sosial, dominasi video pendek, hingga sekarang memasuki era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Namun, saya melihat perubahan yang terjadi beberapa tahun terakhir jauh lebih cepat dan fundamental.
Bukan hanya teknologinya yang berubah. Cara masyarakat mencari dan mengonsumsi informasi berubah. Cara media memproduksi dan mendistribusikan berita berubah. Pola bisnis berubah. Sumber pendapatan berubah. Kebutuhan sumber daya manusia berubah. Bahkan definisi tentang siapa yang menjadi pesaing media juga ikut berubah.
Dahulu masyarakat menunggu koran terbit pada pagi hari. Setelah internet berkembang, masyarakat mulai membuka portal berita melalui komputer dan kemudian telepon genggam.
Hari ini situasinya berbeda. Informasi datang setiap detik melalui layar ponsel. Masyarakat tidak selalu mencari berita dengan membuka sebuah portal berita. Informasi justru sering menemukan mereka melalui Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, video pendek, live streaming, podcast, grup percakapan, bahkan melalui rekomendasi algoritma.
Data Digital News Report 2026 dari Reuters Institute for the Study of Journalism menggambarkan perubahan itu dengan sangat jelas. Sebanyak 64 persen responden Indonesia menuturkan memperoleh berita melalui platform media sosial, naik dibandingkan 57 persen pada laporan tahun sebelumnya. WhatsApp, YouTube, Facebook dan TikTok menjadi bagian penting dalam konsumsi informasi masyarakat Indonesia.
Artinya sederhana, media sosial bukan lagi sekadar tempat mempromosikan berita. Media sosial telah menjadi bagian utama dari ekosistem berita itu sendiri.
Perubahan inilah yang harus dijawab Kupastuntas.co ketika memasuki usia ke-14.
Semua Sudah Berubah. Industri media hari ini setidaknya menghadapi dua perubahan besar secara bersamaan: perubahan perilaku audiens dan perubahan model bisnis.
Dari sisi audiens, persaingan memperebutkan perhatian publik semakin berat. Berita tidak lagi hanya bersaing dengan berita dari perusahaan media lain. Berita sekarang bersaing dengan jutaan konten yang muncul setiap hari: video hiburan, influencer, content creator, podcast, live streaming, akun komunitas, akun anonim, hingga informasi yang diproduksi langsung oleh masyarakat.
Reuters Institute pada 2025 menemukan fenomena menarik di Indonesia. Sekitar 44 persen responden secara rutin memberikan perhatian kepada kreator atau influencer di jaringan sosial dan video, sementara yang memberikan perhatian kepada brand berita atau jurnalis di platform tersebut sebesar 25 persen.
Data itu harus menjadi alarm bagi industri pers. Bukan berarti jurnalisme profesional kehilangan relevansi. Justru tantangannya adalah bagaimana karya jurnalistik yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan mampu dikemas dengan cara yang lebih sederhana, menarik, cepat dan sesuai dengan karakter masing-masing platform.
Perubahan lainnya juga sangat nyata. Pemerintah daerah, kepolisian, kejaksaan, TNI, perusahaan, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga pemerintah dan berbagai organisasi sekarang mempunyai website serta akun media sosial sendiri.
Mereka memiliki Facebook. Instagram. TikTok. YouTube. Bahkan sebagian sudah memiliki tim produksi konten sendiri.
Mereka dapat menyampaikan agenda, kebijakan, klarifikasi dan informasi secara langsung kepada masyarakat.
Artinya, media pers tidak lagi menjadi satu-satunya pintu informasi.
Kondisi tersebut memaksa perusahaan media melakukan satu hal yang tidak dapat ditawar: memberikan nilai tambah.
Media tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Media harus mampu melakukan verifikasi, memberikan konteks, melakukan investigasi, menghadirkan berbagai perspektif, mengawasi kekuasaan dan menjelaskan persoalan kepada masyarakat.
Di situlah jurnalisme profesional tetap mempunyai tempat.
Ketika Model Bisnis Lama Tidak Lagi Cukup. Tantangan berikutnya bahkan lebih berat, yakni bagaimana membiayai jurnalisme.
Selama bertahun-tahun, sebagian media daerah hidup dalam sebuah ekosistem bisnis yang salah satu sumber pendapatannya berasal dari iklan, advertorial dan kerja sama publikasi dengan pemerintah daerah maupun instansi.
Ekosistem itu sekarang berubah.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang semakin kuat sejak 2025 ikut mengubah belanja kementerian, lembaga dan pemerintah daerah. Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2025 menggarisbawahi bahwa penyusunan anggaran harus berorientasi pada efisiensi, penghematan dan pemotongan pengeluaran yang tidak esensial.
Dampaknya juga dirasakan industri media daerah.
Anggaran publikasi dan kerja sama media di berbagai instansi semakin terbatas. Di sebagian tempat nilainya berkurang signifikan, bahkan tidak lagi tersedia seperti tahun-tahun sebelumnya.
Bagi perusahaan media, kondisi ini tentu tidak mudah.
Tetapi kita tidak boleh terus mengeluh. Kita juga tidak bisa menjalankan perusahaan pada tahun 2026 dengan menggunakan pola pikir bisnis media tahun 2010 atau 2015.
Zamannya sudah berubah. Maka cara kita menjalankan bisnis media juga harus berubah. Tidak Bisa Lagi Bergantung pada Anggaran Pemerintah
Bagi Kupastuntas.co, situasi tersebut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi besar terhadap model bisnis perusahaan.
Di bawah payung hukum PT Yobel Irene Media, Kupastuntas.co harus semakin mandiri. Ketergantungan terhadap kerja sama publikasi pemerintah dan lembaga harus terus dikurangi dengan memperluas sumber pendapatan perusahaan.
Monetisasi platform digital harus dikembangkan. Demikian pula endorsement, advertising, kerja sama komersial, branded content, produksi video, event, digital campaign dan berbagai model bisnis kreatif lainnya.
Jejaring media sosial yang selama bertahun-tahun dibangun Kupas Tuntas Group menjadi kekuatan distribusi sekaligus kekuatan ekonomi perusahaan.
Sebab aset perusahaan media sekarang bukan hanya gedung, kantor, kendaraan, komputer atau berapa banyak wartawan yang dimiliki.
Audiens adalah aset. Kepercayaan adalah aset. Konten adalah aset. Data adalah aset. Jaringan distribusi digital juga merupakan aset.
Ketika sebuah perusahaan media memiliki komunitas yang besar dan dipercaya publik, di situlah terdapat nilai ekonomi yang dapat dikembangkan.
Karena itu, tantangan kami bukan hanya bagaimana memperoleh banyak followers. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana followers tersebut menjadi komunitas yang aktif, loyal dan percaya terhadap Kupas Tuntas.
Traffic penting. Followers penting. Views penting. Engagement juga penting. Tetapi semuanya harus bermuara pada dua hal: kepercayaan publik dan keberlanjutan perusahaan.
Pada saat yang sama, kami juga menyadari bahwa monetisasi memiliki batas etik. Konten jurnalistik dan konten komersial harus dapat dibedakan secara jelas. Kerja sama bisnis tidak boleh mengintervensi independensi redaksi. Bisnis harus tumbuh, tetapi integritas jurnalistik tidak boleh dijual.
Transformasi bisnis pada akhirnya juga menyentuh persoalan paling sensitif dalam perusahaan: sumber daya manusia. Kita harus berani menerima kenyataan bahwa perusahaan media hari ini tidak selalu membutuhkan struktur organisasi sebesar masa lalu.
Teknologi membuat banyak pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien. Kupas Tuntas Group pun telah melakukan penyesuaian jumlah SDM sebagai bagian dari proses adaptasi terhadap perubahan industri, perkembangan teknologi dan kemampuan perusahaan.
Tetapi organisasi yang lebih ramping tidak boleh berarti kualitas yang lebih rendah. Justru sebaliknya.
Semakin ramping organisasi, semakin tinggi kualitas manusia yang dibutuhkan. Wartawan sekarang tidak cukup hanya bisa menulis.
Seorang jurnalis idealnya mampu mengambil foto dan video, melakukan live report, memahami media sosial, membaca tren, mengemas video pendek, memahami SEO dan analitik, melakukan verifikasi digital, serta memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung pekerjaannya.
Demikian pula bagian pemasaran. Marketing media tidak bisa lagi hanya membawa proposal iklan atau menawarkan halaman advertorial.
Mereka harus memahami engagement, digital advertising, branding, endorsement, campaign, karakter audiens, data performa konten serta bagaimana jaringan media yang dimiliki dapat memberikan nilai kepada mitra bisnis.
Karena itu, peningkatan kapasitas SDM bukan lagi program tambahan.
Ia adalah kebutuhan untuk bertahan hidup. Kita mungkin bekerja dengan jumlah orang yang lebih sedikit. Tetapi mereka harus lebih terampil, lebih cepat, lebih kreatif, lebih produktif dan mampu mengerjakan pekerjaan lintas platform.
Era digital tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang. Era digital membutuhkan orang yang tepat.
AI Mengubah Cara Kita Bekerja. Perubahan besar berikutnya adalah Artificial Intelligence. AI bukan lagi cerita tentang masa depan. AI sudah berada di depan kita.
Reuters Institute mencatat bahwa perusahaan-perusahaan media di Indonesia mulai menggunakan AI untuk berbagai pekerjaan, mulai dari pembuatan judul dan keyword hingga presenter berbasis AI. Di tingkat global, survei terhadap para pemimpin media menunjukkan 87 persen responden menilai ruang redaksi mereka sudah mengalami transformasi, baik sebagian maupun penuh, akibat generative AI.
AI dapat membantu mempercepat riset, transkripsi wawancara, analisis data, penerjemahan, pencarian ide, penyusunan bahan awal, pengolahan dokumen hingga membantu produksi visual.
Pekerjaan tertentu yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam sekarang dapat dibantu diselesaikan jauh lebih cepat. Bagi perusahaan, ini berarti produktivitas dapat meningkat.
Bagi pekerja, ini juga membawa pesan yang sangat jelas: kemampuan menggunakan AI akan menjadi bagian dari kompetensi kerja.
Tetapi Kupastuntas.co memegang satu prinsip: AI adalah alat, bukan pengganti tanggung jawab manusia. AI boleh membantu wartawan, tetapi AI tidak boleh mengambil alih tanggung jawab jurnalistik.
Berita tetap harus diverifikasi. Narasumber tetap harus dikonfirmasi.
Data tetap harus diperiksa. Keputusan redaksional tetap berada pada manusia. Etika tetap menjadi batas.
Reuters Institute juga menemukan masyarakat jauh lebih nyaman ketika manusia tetap memegang peran utama dalam produksi berita dibandingkan berita yang sepenuhnya dibuat AI. Dalam studi enam negara pada 2025, hanya 12 persen responden merasa nyaman dengan berita yang sepenuhnya dibuat AI, sedangkan tingkat kenyamanan meningkat menjadi 43 persen ketika manusia memimpin proses dengan bantuan AI.
Data tersebut memperkuat keyakinan kami bahwa masa depan jurnalisme bukan pertarungan manusia melawan AI.
Yang lebih mungkin terjadi adalah persaingan antara manusia yang mampu memanfaatkan AI dengan manusia yang tidak mampu memanfaatkannya.
Ada prinsip sederhana yang harus menjadi pegangan dalam transformasi Kupastuntas.co, Kita harus hadir di tempat audiens berada.
Jika masyarakat berada di TikTok, kita harus hadir di TikTok. Jika masyarakat berada di Facebook, Instagram dan YouTube, kita harus kuat di sana.
Jika sebagian generasi muda lebih tertarik menonton video satu menit daripada membaca artikel panjang, kita harus mampu menjelaskan persoalan penting dalam satu menit tanpa kehilangan fakta dan substansinya.
Karena itu, Kupastuntas.co tidak lagi memandang media sosial sekadar sebagai tempat membagikan tautan berita.
Media sosial adalah ujung tombak distribusi konten.
Sementara portal Kupastuntas.co tetap menjadi rumah besar jurnalistik: tempat berita lengkap, data, arsip, investigasi dan dokumentasi publik berada. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru harus saling memperkuat.
Satu liputan lapangan dapat menghasilkan berita untuk portal, video TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, Facebook, infografis, foto, live report bahkan materi podcast. Satu informasi, banyak platform.
Satu redaksi, banyak produk. Satu peristiwa, banyak cara penyajian. Inilah pola kerja media modern. Perubahan Memang Tidak Nyaman
Saya memahami transformasi seperti ini tidak mudah.
Ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan. Ada pola kerja yang harus diperbaiki. Ada kemampuan baru yang harus dipelajari.
Ada pekerjaan yang sepuluh tahun lalu sangat dibutuhkan, tetapi sekarang mulai kehilangan relevansi. Sebaliknya, muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang dahulu bahkan tidak pernah kita bayangkan.
Perubahan terkadang memang tidak nyaman. Tetapi jauh lebih berbahaya apabila kita merasa nyaman ketika dunia di sekitar kita sudah berubah.
Industri media telah memberikan banyak pelajaran. Kita telah melihat media cetak mengurangi frekuensi terbit, perusahaan melakukan efisiensi, ruang redaksi dirampingkan, dan model bisnis baru terus dicari.
Karena itu Kupastuntas.co tidak boleh hanya menjadi penonton.
Kita harus berubah sebelum keadaan memaksa kita berubah.
Kreativitas Menentukan Siapa yang Bertahan
Dalam industri digital, perusahaan besar belum tentu selalu menjadi pemenang.
Perusahaan kecil pun bisa tumbuh sangat cepat apabila memiliki konten yang kuat, memahami audiens, menguasai teknologi dan mampu bergerak lebih lincah.
Karena itu saya terus mendorong keluarga besar Kupas Tuntas Group membangun budaya kerja baru.
Jangan hanya bertanya:
“Apa pekerjaan saya hari ini?”
Mulailah bertanya:
“Apa yang dapat saya ciptakan hari ini?”
Jangan hanya berpikir bagaimana menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Pikirkan juga bagaimana pekerjaan tersebut dapat menghasilkan konten yang berkualitas, meningkatkan traffic dan engagement, memperkuat kepercayaan masyarakat, memperluas audiens, dan pada akhirnya memberikan nilai ekonomi bagi perusahaan.
Kreativitas tidak lagi sekadar nilai tambah.
Kreativitas adalah kebutuhan untuk bertahan.
Di Tengah Semua Perubahan, Jurnalisme Tetap Fondasinya
Teknologi boleh berubah.
Platform boleh berubah.
Model bisnis boleh berubah.
Cara masyarakat menikmati berita boleh berubah.
Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh berubah: nilai dasar jurnalistik.
Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi.
Viralitas tidak boleh mengalahkan kebenaran.
Monetisasi tidak boleh mengalahkan independensi.
Teknologi tidak boleh menghilangkan etika.
Kupastuntas.co harus tetap menjadi media yang kritis, independen, berimbang dan berpihak kepada kepentingan publik.
Justru ketika masyarakat dibanjiri informasi, jurnalisme profesional semakin dibutuhkan.
Digital News Report 2026 bahkan mencatat salah satu tantangan di Indonesia adalah berkembangnya apa yang disebut homeless media—akun atau situs berbasis media sosial yang mengambil konten media lain, kemudian mempublikasikannya kembali, bahkan terkadang membuatnya lebih sensasional sehingga akurasinya berubah. Fenomena semacam ini ikut membuat masyarakat semakin sulit membedakan media jurnalistik dengan sumber informasi yang tidak jelas.
Di sinilah media pers harus menunjukkan perbedaannya.
Ketika orang lain mengejar viral, kita harus memastikan kebenaran.
Ketika informasi simpang siur, kita melakukan verifikasi.
Itulah jurnalisme.
Bertahan Saja Tidak Cukup
Memasuki usia ke-14, perjalanan Kupastuntas.co bukan hanya perjalanan sebuah portal berita. Ini adalah perjalanan sebuah organisasi untuk terus belajar menghadapi perubahan zaman.
Kita pernah berada pada masa ketika koran menjadi kekuatan utama.
Internet kemudian mengubah cara orang membaca berita.
Portal berita tumbuh.
Smartphone menjadi bagian kehidupan masyarakat.
Media sosial meledak.
Video pendek menjadi dominan.
Sekarang AI mulai mengubah kembali cara informasi dicari, diproduksi dan dikonsumsi. Bahkan Reuters Institute pada 2026 mulai mencatat munculnya penggunaan chatbot AI sebagai salah satu cara masyarakat mengakses berita.
Dan saya yakin perubahan tidak akan berhenti di sini.
Lima tahun mendatang mungkin akan muncul teknologi dan pola konsumsi informasi baru yang hari ini belum kita bayangkan.
Karena itu target Kupastuntas.co ke depan tidak boleh hanya bertahan.
Kita harus bertumbuh.
Kita harus bertransformasi.
Dan kita harus memiliki keberanian untuk bersaing dan menang.
Kita membutuhkan redaksi yang lebih cepat dan berkualitas. SDM yang lebih terampil. Media sosial yang lebih kuat. Pemanfaatan AI yang lebih cerdas. Model bisnis yang lebih beragam. Tim pemasaran yang lebih kreatif. Dan yang terpenting, hubungan yang semakin dekat dengan masyarakat.
Empat belas tahun membuktikan bahwa Kupastuntas.co mampu melewati berbagai gelombang perubahan. Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh wartawan, karyawan dan keluarga besar Kupas Tuntas Group—baik yang masih bersama kami hari ini maupun mereka yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang ini.
Terima kasih kepada pembaca dan seluruh masyarakat yang terus memberikan kritik, informasi dan kepercayaan kepada kami.
Terima kasih kepada pemerintah, TNI-Polri, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas, mitra kerja dan seluruh pihak yang selama 14 tahun telah menjadi bagian dari perjalanan Kupastuntas.co.
Kepercayaan itulah yang membuat kami mampu berdiri sampai hari ini.
Memasuki usia ke-14, kami tidak menuturkan bahwa perjalanan ke depan akan semakin mudah.
Justru persaingan akan semakin berat. Teknologi akan semakin cepat berubah. Sumber pendapatan konvensional akan semakin tertekan.
Persaingan memperebutkan perhatian publik akan semakin ketat.
AI akan semakin masuk ke berbagai bidang pekerjaan.
Karena itu kami memastikan satu hal: Kupastuntas.co tidak boleh berhenti berubah.
Kami akan terus belajar.
Terus beradaptasi.
Terus berinovasi.
Terus memperkuat kualitas SDM.
Terus membangun kemandirian ekonomi perusahaan.
Dan yang paling penting, terus menjaga kepercayaan masyarakat.
Sebab pada akhirnya teknologi hanyalah alat. Platform hanyalah saluran. Algoritma bisa berubah setiap saat.
Tetapi kepercayaan adalah modal terbesar sebuah media.
Empat belas tahun perjalanan telah mengajarkan kepada kami bahwa bertahan bukan berarti mempertahankan semua cara lama.
Terkadang, untuk mempertahankan nilai yang kita yakini, kita justru harus berani mengubah cara kita bekerja.
Berubah untuk bertahan.
Berinovasi untuk tumbuh.
Berintegritas untuk tetap dipercaya.
Terus bergerak mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati diri.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-14 Kupastuntas.co.
Tabik. (*)