Wednesday, 07 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Di Balik Jeruji, 15 Warga Binaan Rutan Kotabumi Kembali Sekolah Lewat SMA Terbuka Lampung

07 October 2026 15:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Di Balik Jeruji, 15 Warga Binaan Rutan Kotabumi Kembali Sekolah Lewat SMA Terbuka Lampung
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Jeruji besi tidak menjadi batas bagi seseorang untuk kembali menata masa depan.

Melalui program SMA Terbuka yang digagas Pemprov Lampung, warga binaan di Rutan Kotabumi mendapat kesempatan kembali menempuh pendidikan formal.

Guru datang langsung ke rutan setiap pekan untuk memberikan pelajaran kepada para peserta didik.

Program tersebut menjadi salah satu upaya Pemprov Lampung memperluas akses pendidikan sekaligus membuka kesempatan bagi anak-anak yang sebelumnya putus sekolah untuk kembali belajar.

SMAN 1 Kotabumi menjadi salah satu sekolah induk SMA Terbuka di Provinsi Lampung.

Selain melayani peserta didik dari masyarakat sekitar, program tersebut juga menjangkau warga binaan di Rutan Kotabumi.

Kepala SMAN 1 Kotabumi, Media Sari Putri, menuturkan antusiasme terhadap program tersebut cukup baik.

Bahkan, pihak sekolah masih menerima tambahan peserta didik dari kalangan warga binaan setiap pekannya.

“Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi, Bapak Gubernur, dan Bapak Kepala Dinas Pendidikan untuk mengakomodasi anak-anak yang putus sekolah,” kata Media saat ditemui di Kantor Orang nomor satu di Lampung, Rabu, 7 Oktober 2026.

Saat ini, terdapat sekitar 23 siswa SMA Terbuka yang berada di bawah SMAN 1 Kotabumi.

Sebanyak delapan siswa mengikuti acara belajar di Tempat acara Belajar (TKB) SMAN 1 Kotabumi.

Sementara itu, sekitar 15 siswa lainnya merupakan warga binaan Rutan Kotabumi.

Bagi siswa yang berada di rutan, proses belajar dilakukan dengan sistem kunjungan guru.

Para pendidik dari masing-masing mata pelajaran datang langsung ke rutan untuk memberikan pembelajaran.

“Setiap minggu, guru dari masing-masing mata pelajaran datang ke sana. Ruangan sudah disiapkan di rutan, jadi mereka belajar seperti biasa,” jelasnya.

Pembelajaran digelar setiap Sabtu.

Meski hanya satu hari dalam sepekan, waktu belajar berlangsung penuh dari pagi hingga sore dengan menyesuaikan jadwal mata pelajaran yang harus ditempuh para siswa.

Sistem tersebut dirancang agar kondisi warga binaan tidak menjadi penghalang untuk tetap mendapatkan pendidikan formal.

Menariknya, peserta SMA Terbuka tidak mengikuti sistem kejar paket.

Mereka tetap menjalani pendidikan sebagaimana siswa SMA pada umumnya dengan masa pendidikan selama tiga tahun.

“Normal, sistemnya tiga tahun. Jadi benar-benar dijalani seperti sekolah biasa,” ujar Media.

Program SMA Terbuka tidak hanya ditujukan bagi warga binaan.

Kebijakan Pemprov Lampung tersebut juga menyasar anak-anak yang putus sekolah karena berbagai kondisi.

Pihak sekolah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), camat, hingga perangkat desa terus melakukan sosialisasi dan pendataan terhadap anak-anak yang sudah tidak bersekolah.

Targetnya, semakin banyak anak yang sebelumnya kehilangan kesempatan belajar dapat kembali masuk dalam sistem pendidikan.

“Target kami adalah merekrut sebanyak-banyaknya,” kata Media.

Namun, upaya tersebut menghadapi beberapa tantangan.

Salah satunya adalah banyaknya anak putus sekolah yang sudah bekerja, bahkan berada di luar daerah.

Untuk mengatasi kendala jarak, pihak sekolah membuka peluang membentuk titik acara belajar di lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal peserta.

Dengan skema tersebut, siswa dari beberapa kecamatan dapat dikumpulkan di satu lokasi yang mudah dijangkau.

Sehingga, mereka tidak harus datang ke sekolah induk di Kotabumi.

“Untuk mempermudah acara belajar, kami bisa mencari titik lokasi yang paling dekat untuk mengumpulkan siswa dari beberapa kecamatan,” jelasnya.

Sejak awal sosialisasi, pihak sekolah juga telah melibatkan camat dan perangkat desa dari berbagai kecamatan.

Namun, hingga kini, peserta yang terdaftar masih berasal dari Kotabumi dan wilayah sekitarnya.

Selain masyarakat umum dan warga binaan, sekolah juga telah menjajaki kemungkinan memperluas kerja sama dengan lembaga lain, termasuk panti sosial maupun panti anak.

Namun, kerja sama yang telah berjalan saat ini baru dengan Rutan Kotabumi.

Keberadaan warga binaan sebagai peserta SMA Terbuka menunjukkan bahwa akses pendidikan dalam program tersebut dirancang lebih fleksibel.

Pendidikan tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga mendatangi mereka yang tidak dapat belajar seperti siswa pada umumnya karena kondisi tertentu.

Di balik tembok rutan, para siswa tetap memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun.

Kesempatan tersebut diharapkan menjadi bekal untuk membuka jalan baru ketika mereka kembali ke tengah masyarakat. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari