Tuesday, 08 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kasus ISPA di Bandar Lampung Melonjak Jadi 716 Kasus Usai Erupsi Anak Krakatau

08 September 2026 17:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Kasus ISPA di Bandar Lampung Melonjak Jadi 716 Kasus Usai Erupsi Anak Krakatau
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sebagian wilayah Kota Bandar Lampung melonjak setelah erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung menunjukkan, sedikitnya enam kecamatan mengalami kenaikan kasus ISPA dalam periode 5 hingga 7 September 2026.

Kenaikan tertinggi terjadi di Kecamatan Telukbetung Timur yang mencapai 414,3 persen. Kasus ISPA di wilayah tersebut meningkat dari tujuh kasus pada 5 September menjadi 36 kasus pada 7 September.

Kecamatan Kedamaian berada di posisi kedua dengan kenaikan mencapai 227,3 persen, dari 11 kasus menjadi 36 kasus.

Kemudian Kecamatan Telukbetung Selatan mengalami peningkatan 125 persen, dari 16 kasus menjadi 36 kasus.

Kenaikan juga terjadi di Kecamatan Rajabasa sebesar 104,8 persen, dari 21 kasus menjadi 43 kasus.

Selanjutnya, Kecamatan Tanjungkarang Pusat mencatat kenaikan sebesar 80 persen, dari 15 kasus menjadi 27 kasus.

Sementara Kecamatan Sukarame mengalami kenaikan paling rendah dibanding lima kecamatan lainnya, yakni 34,7 persen, dari 49 kasus menjadi 66 kasus.

Secara keseluruhan, kasus ISPA di Kota Bandar Lampung meningkat dari 632 kasus pada 5 September menjadi 716 kasus pada 7 September 2026.

Artinya, terjadi penambahan 84 kasus atau sekitar 13,3 persen hanya dalam kurun waktu dua hari.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menyampaikan pihaknya kini memperkuat surveilans di 31 puskesmas untuk memantau perkembangan kasus tersebut.

Menurutnya, peningkatan kasus ISPA tersebut memang terjadi bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dan masuknya debu vulkanik ke sebagian wilayah. Namun, Dinkes belum dapat memastikan debu vulkanik sebagai penyebab langsung peningkatan kasus.

“Peningkatan kasus bertepatan dengan erupsi dan debu vulkanik, tetapi belum bisa dinyatakan sebagai penyebab,” jelas Muhtadi.

Dinkes juga masih melakukan validasi terhadap data yang diterima dari seluruh puskesmas. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan peningkatan angka kasus bukan disebabkan adanya pencatatan ganda.

"Pemantauan dilakukan setiap hari dengan memberikan perhatian khusus terhadap wilayah yang mengalami lonjakan kasus paling tinggi, " ungkapnya.

Meski kasus ISPA meningkat, Dinkes menyebut sebagian penyakit dan keluhan lain yang berkaitan dengan gangguan pernapasan maupun paparan debu masih dalam kondisi normal.

Keluhan pneumonia, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta iritasi mata dan kulit belum menunjukkan peningkatan signifikan.

Dinkes pun menghimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi udara masih terdampak sebaran debu vulkanik.

"Kita juga minta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara terlihat berdebu. Penggunaan masker juga dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan partikel vulkanik melalui saluran pernapasan, " ungkapnya.

Selain itu, masyarakat diimbau melindungi mata dari paparan debu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan pernapasan yang memburuk.

"Kita terus memantau perkembangan kasus untuk melihat apakah tren peningkatan ISPA tersebut berlanjut seiring aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, " tandasnya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari