BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyoroti masih lemahnya penguasaan bahasa daerah di kalangan peserta Lomba Cepat Tepat (LCT) tingkat sekolah dasar (SD). Selain kemampuan peserta, Parosil juga menekankan pentingnya menjaga transparansi dan netralitas dewan juri agar pelaksanaan lomba berlangsung secara jujur dan sportif.
Sorotan tersebut disampaikan Parosil saat membuka acara LCT di Lamban Pancasila, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, Kamis (17/9/2026). Ia menyampaikan telah memantau secara langsung jalannya perlombaan, khususnya pada kategori SD.
Menurut Parosil, LCT tidak semestinya dipandang hanya sebagai acara perlombaan yang digelar setiap tahun. Lebih dari itu, acara tersebut dapat menjadi salah satu tolok ukur untuk melihat sejauh mana kemampuan peserta didik sekaligus menggambarkan hasil proses pendidikan yang berlangsung di Lampung Barat.
Ia menilai sekolah memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki melalui kompetisi tersebut. Karena itu, pelaksanaan LCT diharapkan tidak hanya mengejar hasil perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan peserta didik di masing-masing wilayah.
Namun, dari hasil pengamatannya saat menyaksikan LCT tingkat SD, Parosil menemukan masih adanya kelemahan peserta dalam penguasaan bahasa daerah. Kondisi tersebut dinilainya perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi Dinas Pendidikan agar penguatan bahasa daerah dapat dilakukan secara lebih serius ke depan.
"Ini jadi catatan. Bahasa daerah harus diperkuat lagi ke depan," ujar Parosil saat memberikan arahan dalam acara tersebut.
Selain persoalan kemampuan peserta, Parosil juga menekankan pentingnya integritas dalam pelaksanaan LCT. Ia meminta seluruh dewan juri menjalankan tugas secara objektif dan tidak memberikan perlakuan berbeda kepada peserta berdasarkan hubungan keluarga maupun titipan dari pihak tertentu.
"Kepada dewan juri harus netral, tidak ada kata-kata titipan atau saudara. Semua peserta sama," tegasnya.
Menurutnya, prinsip kejujuran dan sportivitas harus menjadi bagian penting dalam setiap kompetisi. Dengan demikian, hasil yang diperoleh peserta benar-benar mencerminkan kemampuan mereka selama mengikuti perlombaan, bukan dipengaruhi oleh faktor di luar kemampuan peserta.
Parosil juga mengharapkan LCT dapat terus diselenggarakan dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ia meminta agar penyelenggaraan pada 2027 mendatang dikemas lebih baik, sehingga acara tersebut semakin menarik sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi peserta maupun dunia pendidikan di Lampung Barat.
"acara LCT ini jangan cukup berhenti sampai dengan tahun ini saja, untuk tahun 2027 harus dikemas dengan lebih apik lagi," ujarnya.
Tidak hanya meminta peningkatan kualitas penyelenggaraan, Parosil juga mendorong agar cakupan peserta LCT diperluas. Ia meminta seluruh sekolah yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Barat dapat dilibatkan dalam acara tersebut tanpa terkecuali.
Menurutnya, sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama juga perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti LCT bersama sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan. Dengan demikian, kompetisi tersebut dapat menjadi wadah yang lebih luas bagi peserta didik untuk menguji kemampuan dan pengetahuan mereka.
"Untuk tahun depan harus semua sekolah yang berada di Lampung Barat diundang mengikuti LCT, baik yang di bawah naungan Dinas Pendidikan maupun Kementerian Agama," tuturnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Lampung Barat Partinia Parosil Mabsus menyoroti pelaksanaan LCT kategori PKK. Menurutnya, acara tersebut dapat menjadi salah satu alat ukur untuk melihat sejauh mana aktivitas kader PKK di tingkat kecamatan dalam menjalankan pembinaan hingga ke pekon.
Partinia menjelaskan, LCT kategori PKK tidak hanya dimaknai sebagai kompetisi antarkader. acara tersebut juga menjadi kesempatan bagi para kader untuk saling berbagi dan memperoleh pengetahuan baru, khususnya terkait berbagai persoalan yang berkaitan dengan tugas kader di tengah masyarakat.
"Anggap saja hari ini kita arisan ilmu. Apa yang belum diketahui selama ini, insya Allah hari ini akan mendapat transfer ilmu," kata Partinia.
Ia menekankan, kader PKK maupun posyandu tidak cukup hanya menyandang jabatan atau status sebagai kader. Para kader juga dituntut memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai terhadap persoalan dasar di masyarakat, termasuk mengenai stunting. Dengan adanya LCT, pengetahuan kader diharapkan semakin berkembang dan dapat diterapkan dalam menjalankan pembinaan kepada masyarakat di wilayah masing-masing. (*)