Monday, 26 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Pencak Silat: Jalan Menuju Olimpiade, Oleh: Dosen Universitas Teknokrat Rachmi Marsheilla Aguss

26 October 2026 17:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
Pencak Silat: Jalan Menuju Olimpiade, Oleh: Dosen Universitas Teknokrat Rachmi Marsheilla Aguss
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

sejarah, dan nilai budaya yang sangat kuat. Namun hingga saat ini, pencak silat belum menjadi cabang olahraga Olimpiade.

Tantangan ini seharusnya tidak hanya dijawab dengan rasa bangga terhadap identitas bangsa, tetapi juga dengan tindakan nyata untuk mengembangkan pencak silat sebagai olahraga yang dikenal, disukai, dan dipertandingkan secara luas di seluruh dunia.

Bagi Indonesia, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri. Di dalamnya terdapat nilai-nilai seperti disiplin, berani, bisa mengendalikan diri, berolahraga secara sportif, serta menghormati orang lain.

Indonesia juga memiliki pengalaman yang panjang dalam pembinaan atlet dan penyelenggaraan kejuaraan pencak silat.  Modal tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk mengangkat pencak silat ke panggung olahraga dunia, termasuk Olimpiade.

Namun, ada satu hal yang patut diketahui: keberhasilan di tingkat internasional tidak otomatis membuat suatu cabang olahraga bisa masuk ke Olimpiade.

Pengakuan budaya, kemampuan atlet, dan popularitas olahraga saling mendukung, tetapi memiliki ukuran yang berbeda.

Tantangan terbesar bukan hanya tentang pengakuan, tapi juga tentang bagaimana pencak silat menyebar dan dikenal di seluruh dunia.

Dokumen dari Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2025 menyebutkan bahwa asosiasi pencak silat sudah ada di 83 negara. Angka ini menunjukkan bahwa pencak silat sudah keluar dari batas wilayah Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Namun, dokumen yang sama juga mengungkapkan bahwa minat terhadap pencak silat rendah di beberapa negara menjadi salah satu hambatan besar untuk bisa masuk ke Olimpiade.

Artinya, meski ada organisasi di banyak negara, tidak semua organisasi itu memiliki atlet yang cukup, kompetisi yang teratur, penonton yang banyak, atau dukungan dari masyarakat. (Kemenpora, 2025).

Data ini harus menjadi dasar dalam merancang strategi. Indonesia tidak hanya perlu menambah jumlah negara yang bergabung.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa federasi di negara-negara tersebut benar-benar berjalan dengan baik. Mereka harus bisa melatih atlet secara terus-menerus, mengadakan kompetisi, serta menarik perhatian generasi muda.

Di sini penting untuk melihat pencak silat secara seimbang, dengan memperhatikan baik kekuatan maupun kelemahannya.

Kekuatan pencak silat jelas terlihat dari identitas budaya yang khas dan kuat. Gerakannya yang penuh makna, serta filosofi yang mendalam, membuatnya berbeda dari seni bela diri lainnya di dunia.

Selain itu, pencak silat juga memiliki beragam teknik yang bisa disesuaikan dengan berbagai gaya dan gaya bertarung. Tidak hanya itu, olahraga ini juga membawa nilai pendidikan karakter, seperti disiplin, hormat, dan tanggung jawab, yang sangat penting untuk perkembangan atlet.

Indonesia juga telah membuktikan diri sebagai negara yang mampu melahirkan atlet pencak silat berprestasi di kancah internasional, mulai dari SEA Games hingga Piala Dunia.

Namun, kekuatan-kekuatan itu tidak akan terasa maksimal tanpa dukungan dari sisi manajemen dan pemasaran yang matang. Pencak silat perlu dikelola secara profesional, dari pelatihan hingga promosi.

Kompetisi pun harus terus digelar secara rutin dan internasional, agar semakin banyak orang di luar Indonesia yang mengenal dan tertarik.

Selain itu, agar masyarakat umum, termasuk penonton baru, bisa menikmati pertandingan pencak silat, kompetisinya harus mudah dipahami. Sistem penilaian harus transparan, jelas, dan konsisten.

Keamanan atlet juga harus menjadi prioritas utama, dengan standar keselamatan yang ketat dan diterapkan secara konsisten di semua tingkat kompetisi.

Dengan memadukan kekuatan budaya dan nilai-nilai luhur dengan manajemen modern dan kompetisi yang profesional, pencak silat bisa tumbuh menjadi olahraga yang tidak hanya dihargai di Indonesia, tapi juga diakui di seluruh dunia.

Isu ini sejalan dengan kriteria yang digunakan dalam penilaian cabang olahraga untuk Olimpiade Los Angeles 2028. Komite Olimpiade Internasional (IOC) mempertimbangkan berbagai aspek, seperti daya tarik global, keamanan atlet, kesetaraan gender, relevansi bagi generasi muda, integritas persaingan, serta biaya dan kompleksitas penyelenggaraan.

Maka dari itu, pencak silat harus mampu menunjukkan bahwa olahraga ini tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia, tetapi juga relevan bagi masyarakat dunia. (IOC, 2022).

Dengan demikian, strategi untuk menuju Olimpiade harus berubah dari promosi yang bersifat seremonial menjadi pengembangan ekosistem olahraga yang nyata.

Pertama, Indonesia perlu memperkuat pengembangan pencak silat di negara lain. Diplomasi olahraga harus difokuskan pada kolaborasi nyata dengan federasi nasional, universitas, sekolah, klub, dan penyelenggara acara kompetisi.

Negara yang sudah memiliki federasi harus didorong untuk bisa mengembangkan atlet secara berkelanjutan dan mengadakan kejuaraan secara konsisten.

Keberhasilan tidak boleh diukur hanya dari jumlah negara yang terdaftar sebagai anggota, tetapi juga dari aktivitas yang dilakukan serta kualitas pembinaan yang diberikan.

Kedua, kita harus fokus pada standarisasi pertandingan. Aturan, cara menilai, kualitas wasit, keamanan atlet, dan teknologi pendukung semua perlu terus diperbaiki. Penonton harus tahu bagaimana cara menentukan pemenang. Atlet juga harus memastikan kompetisi berjalan adil.

Keyakinan pada sistem kompetisi adalah kunci untuk membangun reputasi olahraga di dunia. Ketiga, pencak silat harus dibuat lebih menarik supaya generasi muda di seluruh dunia tertarik. Siaran digital, acara kompetisi yang berkualitas, materi edukasi, dan ajang internasional yang mudah diakses bisa membantu menambah penggemar.

Promosi harus dilanjutkan setelah pertunjukan seni atau perayaan budaya. Pencak silat harus menjadi olahraga kompetitif yang menyenangkan untuk disaksikan, dipelajari, dan ditekuni.

Keempat, pemerintah, IPSI, PERSILAT, Komite Olimpiade Indonesia, dunia pendidikan, dan sektor swasta harus bekerja sama dengan tujuan yang sama.

Program Road to Olympic membutuhkan rencana yang jelas, sasaran yang terukur, pembagian tugas, dan evaluasi rutin.

Anggaran publik harus dipadankan dengan indikator hasil, contohnya peningkatan jumlah atlet aktif di luar negeri, frekuensi kompetisi internasional, jangkauan audiens, dan peningkatan kualitas pengelolaan.

Jalan menuju Olimpiade memang tidak mudah. Namun Indonesia sudah punya aset awal yang besar: tradisi, pengalaman berkompetisi, sumber daya manusia, dan jaringan federasi internasional.

Modal ini harus diubah menjadi program yang konsisten, bukan hanya slogan di setiap kejuaraan atau forum organisasi.

Sasaran Olimpiade 2032 yang ada di dokumen program Kemenpora bisa menjadi pedoman jangka panjang. Namun target itu harus dipandang sebagai sasaran yang diperjuangkan lewat proses dan penilaian, bukan sekadar kepastian bahwa pencak silat akan tampil di kompetisi tahun tersebut.

Akhirnya, usaha mempromosikan pencak silat di Olimpiade bukan hanya soal menambah medali bagi Indonesia.

Pencak silat juga memberi kesempatan untuk memperlihatkan budaya bangsa kepada dunia lewat olahraga yang profesional, inklusif, dan kompetitif.

Pencak silat tidak akan dikenal di dunia hanya karena Indonesia menginginkannya. Pencak silat akan dikenal secara global jika lebih banyak negara melatih atlet pencak silat, lebih banyak orang berminat menyaksikan pertandingan pencak silat, dan dunia mulai mengakui mutu kompetisinya.

Oleh sebab itu, upaya menuju Olimpiade harus dimulai dengan perubahan cara berpikir. Tidak hanya menginginkan pencak silat diakui secara global.

Tetapi juga perlu memperluas pencak silat agar benar-benar diperlukan dan menarik bagi masyarakat global.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari