Monday, 26 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Penjualan Kendaraan Niaga di Lampung Melonjak 40 Persen, Mirza Klaim Daya Beli Petani Menguat

26 October 2026 10:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Penjualan Kendaraan Niaga di Lampung Melonjak 40 Persen, Mirza Klaim Daya Beli Petani Menguat
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kenaikan pembelian kendaraan niaga lebih dari 40 persen dan penjualan semen ritel hampir 20 persen diklaim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung sebagai indikator membaiknya daya beli masyarakat di wilayah berbasis pertanian.

Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut peningkatan aktivitas konsumsi tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan petani, terutama di daerah yang perekonomiannya bertumpu pada komoditas padi, jagung, dan singkong.

Meski demikian, kenaikan penjualan kendaraan dan bahan bangunan merupakan indikator aktivitas ekonomi, bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan petani.

Pemerataan kenaikan pendapatan, biaya produksi, dan keuntungan bersih setelah panen tetap menjadi faktor penting untuk mengukur dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Pembelian mobil di kabupaten-kabupaten pertanian ini meningkat hampir 40 persen lebih, terutama di mobil pertanian, mobil light truck, truk, dan van,” ujar Mirza.

Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Pesta Rakyat Petani dalam rangka Hari Tani Nasional 2026 di kawasan Gruput, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Minggu, 25 Oktober 2026.

Selain kendaraan, Mirza menyebut penjualan semen ritel di kabupaten-kabupaten berbasis pertanian juga meningkat hampir 20 persen sepanjang tahun ini.

Menurut dia, angka tersebut berdasarkan laporan yang diterimanya dari Semen Indonesia.

Peningkatan pembelian kendaraan niaga dan material bangunan, lanjut Mirza, menunjukkan pergerakan daya beli di daerah yang mengandalkan sektor pertanian.

“Banyak sekali indikator-indikator konsumtivitas yang tinggi dan tumbuhnya itu di kabupaten, terutama di kabupaten yang mengandalkan pertanian,” katanya.

Mirza menjelaskan, sektor pertanian memiliki posisi penting dalam perekonomian Lampung.

Ia menyebut hampir 60 persen masyarakat Lampung bergantung pada tiga komoditas utama, yakni padi, jagung, dan singkong.

Karena itu, perubahan harga jual hasil panen dan biaya sarana produksi dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, terutama di wilayah perdesaan.

Mirza mengaitkan peningkatan pendapatan petani dengan kebijakan pemerintah pusat terkait harga komoditas dan pupuk bersubsidi.

“Semenjak Pak Prabowo menjadi presiden, harga pupuk murah dan harga komoditas itu naik semua; padi naik, jagung naik, singkong naik. Petani-petani di sini alhamdulillah pendapatannya jadi sangat luar biasa,” ujarnya.

Namun, dampaknya terhadap kesejahteraan petani perlu ditelaah melalui data harga di tingkat produsen, biaya usaha tani, produktivitas, dan pendapatan bersih rumah tangga petani.

Data tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah kenaikan harga komoditas benar-benar diikuti peningkatan keuntungan yang berkelanjutan.

Mirza juga menyebut Lampung berada di posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera.

Ia mengaitkan capaian tersebut dengan perkembangan sektor pertanian dan meningkatnya aktivitas ekonomi di daerah.

Di tengah upaya meningkatkan pendapatan petani, Pemprov Lampung menekankan hilirisasi agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi.

Salah satu contoh yang disampaikan Mirza adalah pengolahan singkong menjadi tepung modified cassava flour (mocaf) oleh masyarakat Kabupaten Pringsewu.

Menurut dia, pemerintah daerah tengah menyiapkan ekspor perdana tepung mocaf hasil olahan masyarakat setempat ke Amerika Serikat pada bulan mendatang.

“Kalau tahun kemarin kita baru jualan singkong mentah, tapi sekarang dari desa-desa sudah mengolah menjadi mocaf. Jadi turunan singkong dijadikan tepung oleh petani, oleh masyarakat-masyarakat di desa, dan ini diekspor,” katanya.

Rencana ekspor tersebut membuka peluang pengembangan usaha pengolahan di perdesaan.

Namun, manfaat ekonominya akan bergantung pada kapasitas produksi, kepastian pasar, keterlibatan petani sebagai pemasok, dan pembagian nilai tambah antara petani serta pelaku pengolahan.

Jika rantai usaha tersebut berjalan berkelanjutan, hilirisasi berpotensi memperluas sumber pendapatan masyarakat, tidak hanya dari penjualan hasil panen, tetapi juga dari acara pengolahan dan perdagangan.

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan bahwa pemerintah telah menghentikan impor singkong dan etanol atas instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Ia menyebut kebijakan tersebut turut mendorong kenaikan harga singkong di tingkat petani hingga Rp3.000 per kilogram.

“Belum ada SK, belum ada Kepmen, belum ada Perpres, Inpres, kami minta stop! Distop impor dari negara lain,” kata Amran.

Pernyataan tersebut menempatkan kebijakan impor sebagai salah satu faktor yang diklaim pemerintah memengaruhi perbaikan harga singkong.

Untuk memastikan keberlanjutannya, pelaksanaan kebijakan, penyerapan hasil panen oleh industri, dan stabilitas harga di tingkat petani tetap perlu diperhatikan.

Amran juga menyampaikan bahwa harga pupuk bersubsidi telah diturunkan hingga 20 persen tanpa menambah beban APBN.

Ia menekankan pengawasan distribusi pupuk terus dilakukan untuk mencegah penyelewengan yang merugikan petani.

Di sisi lain, pemerintah membuka akses bantuan alat dan mesin pertanian bagi kelompok buruh tandur, termasuk kelompok buruh tandur perempuan di Pringsewu.

Kebijakan tersebut diharapkan memperluas akses sarana produksi bagi kelompok pekerja pertanian yang turut menopang acara usaha tani.

Peningkatan pembelian kendaraan niaga dan semen, kenaikan harga komoditas, serta rencana ekspor produk olahan menjadi sebagian indikator dan peluang yang disampaikan pemerintah untuk menggambarkan perkembangan ekonomi kawasan pertanian Lampung.

Namun, ukuran akhirnya bukan hanya meningkatnya transaksi di pasar, melainkan sejauh mana perubahan tersebut memperbaiki pendapatan bersih petani, mengurangi beban biaya produksi, memperluas kesempatan kerja, dan menjaga kesejahteraan masyarakat perdesaan dalam jangka panjang. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari