BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Tanggamus — Demi nyawa pasien, tenaga kesehatan (nakes) harus menempuh medan berat di wilayah selatan Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus.
Jalan berlumpur, tanjakan dan turunan terjal dan curam, kawasan hutan dan perkebunan hingga sungai yang meluap menjadi bagian dari perjuangan mereka ketika harus menjangkau warga yang membutuhkan pertolongan, Minggu (27/9/2026).
Di balik megahnya pembangunan daerah dan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, ada perjuangan sunyi yang jarang terlihat. Para nakes UPTD Puskesmas Martanda di Pekon Martanda (Limus), Kecamatan Pematangsawa, setiap hari menembus batas geografis untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap hadir hingga ke wilayah yang sangat terpencil.
Pada Minggu (27/9/2026), misalnya, tim Puskesmas Martanda harus menempuh perjalanan sekitar 11 kilometer menuju Pedukuhan Darussalam, di Pekon Way Asahan. Mereka melintasi jalur yang naik dan turun, kawasan hutan dan perkebunan serta menghadapi kondisi sungai yang meluap untuk mendatangi warga yang membutuhkan pelayanan, termasuk pasien yang memerlukan pertolongan dan evakuasi.
Perjalanan itu berlangsung ketika di wilayah lain Kabupaten Tanggamus, perhatian pemerintah daerah juga tengah diarahkan pada rencana pembangunan daerah fasilitas kesehatan baru. Pemerintah Kabupaten Tanggamus telah menetapkan lokasi pembangunan daerah RSUD Tipe D Talang Padang di Pekon Banding Agung melalui Keputusan Bupati Tanggamus Nomor B.377/25/08/2026.
Rencana tersebut akan menambah rumah sakit milik Pemkab Tanggamus setelah RSUD Batin Mangunang di Kotaagung yang saat ini berstatus rumah sakit umum kelas dan memiliki pelayanan gawat darurat 24 jam.
Namun, di balik rencana pembangunan daerah rumah sakit baru itu, persoalan akses pelayanan kesehatan di wilayah selatan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Teluk Semaka di satu sisi, dan kawasan hutan TNBBS di sisi lain, tidak ada jalan darat yang bisa dilalui mobil, tetap menjadi kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.
Bagi nakes Puskesmas Martanda, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang berada di dalam gedung puskesmas. Mereka harus datang kepada masyarakat.
11 Kilometer Menembus Hutan
Perjalanan menuju Pedukuhan Darussalam bukan perjalanan biasa.
Sepeda motor dinas menjadi salah satu sarana yang digunakan petugas untuk menjangkau wilayah tersebut. Jalan sempit dengan permukaan tanah dan beton harus dilalui. Tanjakan dan turunan panjang menghadang. Jalur juga melewati kawasan hutan dan perkebunan.Dalam kondisi tertentu, sungai yang meluap menjadi hambatan tambahan.
Kepala UPTD Puskesmas Martanda, Diana, S.Tr.Keb menyampaikan, jarak antara pedukuhan Darusalam dan puskesmas sekitar 11 kilometer melalui jalur darat.
“Jarak dari pedukuhan ke Puskesmas Martanda kurang lebih 11 kilometer melalui rute darat. Untuk menjangkau daerah yang jauh dan dekat kawasan hutan, kami melakukan pelayanan dengan cara jemput bola,” kata Diana, Minggu (27/9/2026).
Setibanya di wilayah warga, petugas tidak hanya menunggu masyarakat berkumpul. Mereka bergerak dari rumah ke rumah. beberapa lansia menjadi sasaran pelayanan. Petugas menemukan warga dengan berbagai keluhan, termasuk tekanan darah tinggi dan kadar gula darah yang belum terkontrol.
“Sebagian sasarannya lansia dengan berbagai macam keluhan, seperti darah tinggi yang tidak terkontrol. Ada juga sebagian pasien dengan gula darah tinggi yang belum terkontrol,” ujar Diana.
beberapa warga juga mengeluhkan gatal-gatal yang disebut berkaitan dengan sisa dampak abu vulkanik.
Kondisi geografis wilayah selatan Pematangsawa membuat perjalanan nakes tidak selalu dapat mengandalkan kendaraan.
Jalan yang berlumpur dan licin dapat membuat sepeda motor kehilangan daya jelajah. Tanjakan curam juga menjadi tantangan tersendiri.
Dalam situasi seperti itu, kendaraan harus dituntun atau dibantu bersama-sama agar dapat melewati medan.
Jika kendaraan benar-benar tidak dapat melanjutkan perjalanan, langkah kaki menjadi pilihan terakhir.
Dengan membawa tas berisi obat-obatan, alat pemeriksaan, vaksin dan perlengkapan medis lainnya, petugas tetap berjalan menuju masyarakat.
Mereka harus menyusuri jalan licin, menembus kawasan hutan, melewati perkebunan dan mendaki perbukitan serta turunan curam.
Dalam kondisi tertentu, perjalanan dapat berlangsung berjam-jam. Bukan karena jarak yang luar biasa jauh, tetapi karena kondisi medan membuat perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dengan kendaraan menjadi jauh lebih sulit.
Keterbatasan sarana transportasi juga menjadi persoalan tersendiri.
Puskesmas Martanda tidak memiliki kendaraan puskesmas keliling atau pusling untuk menjangkau medan berat tersebut. Karena itu, sepeda motor menjadi salah satu kendaraan utama yang digunakan petugas untuk bergerak menuju wilayah binaan.
Kondisi tersebut membuat nakes harus beradaptasi dengan medan. Ketika sepeda motor bisa melaju, mereka berkendara. Ketika kendaraan tidak mampu melewati jalur tertentu, mereka turun dan berjalan kaki.
Ketika kondisi jalan licin dan berbahaya, mereka harus lebih berhati-hati.
Hujan juga menjadi tantangan. Pakaian basah, tubuh lelah dan perjalanan panjang menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi.
Wilayah kerja Puskesmas Martanda mencakup masyarakat yang tinggal di kawasan yang secara geografis tidak mudah dijangkau. Di antaranya Pekon Teluk Brak, Karang Brak, Tirom, Kaurgading, Way Asahan, Martanda, Tampang Muda dan Tampang Tua.
Bagi masyarakat di wilayah tersebut, kedatangan tenaga kesehatan bukan sekadar pelayanan medis. Kehadiran nakes berarti ada petugas yang bersedia datang ketika warga menghadapi kesulitan untuk mencapai fasilitas kesehatan.
Mereka menjadi tempat masyarakat berkonsultasi ketika ibu hamil membutuhkan pemeriksaan, ketika anak sakit, ketika lansia membutuhkan pemantauan kesehatan, maupun ketika warga membutuhkan edukasi kesehatan.
Jarak ke Kotaagung juga menjadi persoalan bagi sebagian masyarakat di wilayah terpencil tersebut. Akses menuju pusat kabupaten di Kotaagung tidak selalu mudah dan dalam kondisi tertentu harus mengandalkan jalur laut, dengan waktu tempuh yang dapat mencapai beberapa jam.
"Karena itu, kehadiran Puskesmas Martanda memiliki arti penting sebagai pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat," kata Sigit, warga Pekon Karang Brak.
Antara Rumah Sakit Baru dan Jalan Lama
Rencana pembangunan daerah RSUD Tipe D Talang Padang menunjukkan adanya upaya pemerintah daerah memperluas layanan kesehatan. Lokasinya telah ditetapkan di Pekon Banding Agung, Kecamatan Talang Padang, dan menjadi tahapan konkret menuju pembangunan daerah rumah sakit kedua milik Pemkab Tanggamus.
Namun pembangunan daerah fasilitas kesehatan pada akhirnya bukan hanya soal gedung. Ada tenaga kesehatan yang harus disiapkan. Ada peralatan medis. Ada sistem rujukan. Ada biaya operasional. Dan yang tidak kalah penting, ada akses masyarakat menuju fasilitas tersebut.
Di selatan Pematangsawa, persoalan itu terlihat dalam bentuk yang paling nyata.
Nakes masih harus menembus jalan terjal untuk mendatangi pasien. Motor masih menjadi andalan. Jalan berlumpur masih harus dilalui. Sungai masih menjadi tantangan.
Dan ketika kendaraan tidak mampu melaju, petugas harus turun dan berjalan kaki membawa perlengkapan medis.
Di titik inilah pembangunan daerah kesehatan memiliki makna yang lebih luas. Rumah sakit dibutuhkan, tetapi masyarakat di pelosok seperti Selatan Pematangsawa juga membutuhkan jalan yang memungkinkan tenaga kesehatan dan pasien bergerak dengan cepat dan aman.
Perjuangan nakes Puskesmas Martanda pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang beratnya medan. Ini adalah cerita tentang bagaimana pelayanan publik bekerja di wilayah yang aksesnya belum mudah.
Ketika sepeda motor terjebak lumpur, petugas dan warga saling membantu.
Ketika perjalanan melelahkan, mereka saling menguatkan.
Ketika hujan turun dan pakaian basah, perjalanan tetap dilanjutkan. Karena di ujung jalan itu ada warga yang menunggu. Ada pasien yang membutuhkan pertolongan. Ada lansia yang perlu diperiksa. Ada ibu dan anak yang membutuhkan pelayanan. Ada masyarakat yang tidak seharusnya kehilangan hak mendapatkan layanan kesehatan hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota.
Diana menekankan, pelayanan tersebut bukan berarti Puskesmas Martanda membuka pos tetap di rumah warga.
“Setelah door to door, kami bukan pos di rumah warga. Kami datang langsung untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.
Perjalanan 11 kilometer menuju Darussalam akhirnya bukan sekadar angka. Di atas peta, 11 kilometer mungkin terlihat pendek.
Namun di lapangan, jarak itu bisa berubah menjadi perjalanan panjang ketika harus melewati hutan, perkebunan, tanjakan, turunan dan sungai.
Dan bagi nakes, setiap perjalanan memiliki tujuan yang sama: memastikan warga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan tetap dijangkau.
Di balik pembangunan daerah yang tampak dari kota, ada perjuangan yang berlangsung jauh dari sorotan.Para nakes Puskesmas Martanda memilih terus bergerak.
Sebab bagi warga di pelosok Pematangsawa, pelayanan kesehatan bukan sekadar gedung yang berdiri megah, melainkan tenaga kesehatan yang bersedia datang ketika jalan menuju mereka begitu sulit ditembus. (*)