BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah-sekolah Provinsi Lampung mulai kembali diselenggarakan, khusus SMA sederajat.
Sebelum aktivitas belajar berjalan normal, sekitar 300 ribu lebih siswa dan guru serentak melaksanakan salat Istisqa dan doa bersama untuk memohon hujan.
agenda tersebut dilakukan di tengah dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung Thomas Amirico menyampaikan, pelaksanaan PTM telah dipastikan dimulai setelah sebelumnya disesuaikan dengan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Sudah kita cek dan kita pastikan bahwa proses belajar secara tatap muka hari ini dimulai,” kata Thomas usai meninjau SMAN 1, SMAN 10, dan SMAN 2 Bandarlampung, Jumat, 11 September 2026.
Menurut dia, terdapat dua agenda yang dilakukan sebelum proses pembelajaran berlangsung normal.
Pertama, seluruh sekolah di Lampung melaksanakan salat Istisqa dan doa bersama secara serentak.
Langkah tersebut dilakukan sebagai ikhtiar agar hujan segera turun sehingga abu vulkanik yang masih mengganggu aktivitas masyarakat dapat berkurang.
“Yang pertama adalah salat Istisqa, bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala supaya ujian ini segera berhenti dan kita minta hujan, supaya abu vulkanik ini bisa selesai. Dengan hujan kan dia bisa hilang,” ujarnya.
Thomas menyebut agenda tersebut diikuti secara serentak oleh siswa dan guru di berbagai sekolah di Lampung.
Jumlah peserta diperkirakan mencapai lebih dari 300 ribu orang.
Setelah salat Istisqa, sekolah juga diminta memastikan kondisi ruang kelas.
Petugas kebersihan bersama warga sekolah mengecek dan membersihkan ruang belajar dari kemungkinan sisa abu vulkanik.
“Setelah salat Istisqa, mereka memastikan dengan petugas kebersihan untuk melihat ruang kelas, apakah betul-betul sudah steril atau belum," jelas Thomas.
"Kalau belum, tentu bergotong royong bersama dengan petugas kebersihan,” sambungnya.
Langkah tersebut dilakukan agar agenda belajar mengajar pada Senin mendatang dapat berlangsung lebih efektif, nyaman, dan lancar.
Thomas menginginkan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau segera membaik sehingga aktivitas pendidikan di Lampung dapat kembali berjalan seperti biasa.
Di sisi lain, Disdikbud Lampung juga menyiapkan inovasi pembelajaran melalui program Double Teaching yang rencananya mulai diluncurkan pada 21 September 2026.
Program tersebut akan diawali di beberapa sekolah unggulan di Bandar Lampung.
Dalam pelaksanaannya, guru dari sekolah-sekolah tersebut akan diputar untuk berbagi pengalaman dan metode pengajaran.
Menariknya, konsep Double Teaching memungkinkan proses pembelajaran dalam satu kelas melibatkan lebih dari satu guru secara bersamaan.
“Nanti ada beberapa sekolah unggul, gurunya akan berputar, tiga guru mata pelajaran," ungkap Thomas.
"Kemudian nanti di dalam kelas akan ada metode baru pengajaran,” kata Thomas.
Ia menjelaskan, tidak menutup kemungkinan satu kelas nantinya diisi dua guru sekaligus.
Namun, penerapannya belum dapat dilakukan untuk seluruh mata pelajaran karena keterbatasan jumlah guru.
Konsep tersebut ditujukan untuk membuat proses belajar lebih aktif sekaligus memungkinkan guru saling melengkapi dan berbagi pengetahuan.
“Supaya saling melengkapi. Guru satu dengan yang lainnya bisa saling melengkapi, kemudian bisa berbagi ilmu,” ujarnya.
Untuk tahap awal, Double Teaching akan diterapkan pada tiga mata pelajaran inti, yakni Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Thomas menyampaikan, pemilihan ketiga mata pelajaran tersebut karena merupakan mata pelajaran inti.
Penerapannya dilakukan secara bertahap sebelum nantinya dikembangkan lebih luas.
“Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Karena itu mapel inti. Itu dulu sementara, karena kita bertahap,” sebutnya.
Selain inovasi pembelajaran, Thomas juga meminta para siswa Lampung memiliki cita-cita tinggi dan daya juang kuat.
Menurutnya, siswa tidak cukup hanya memiliki mimpi, tetapi juga harus memiliki target, pola pikir produktif, lingkungan pergaulan positif, serta kesiapan untuk mewujudkan cita-citanya.
“Saya minta semua anak-anak di Lampung ini punya mimpi yang tinggi, punya target, punya mindset produktif, punya circle yang positif, sehingga mereka punya cita-cita," tuturnya.
"Tapi harus juga punya daya juang dan kesiapan,” pungkasnya. (*)