Wednesday, 23 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Siswa SD Meninggal Tersedak Kelengkeng MBG, Satgas Lampung Tekankan Evaluasi Keamanan Menu

23 September 2026 18:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
Siswa SD Meninggal Tersedak Kelengkeng MBG, Satgas Lampung Tekankan Evaluasi Keamanan Menu
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kasus siswa SD meninggal setelah tersedak buah kelengkeng dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi catatan serius bagi pelaksanaan program tersebut di Lampung.

Satgas MBG Lampung meminta seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih memperhatikan faktor keamanan makanan, terutama menu yang diberikan kepada anak-anak usia sekolah dasar (SD).

Ketua Satgas MBG Lampung Saipul menyampaikan, petunjuk teknis (juknis) MBG memang belum mengatur secara spesifik larangan pemberian buah kelengkeng maupun buah yang memiliki biji.

Namun, kejadian di Lampung Tengah dinilai perlu menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan dan penyajian menu MBG ke depan.

"Untuk anak-anak usia SD, kalau bisa disajikan buah atau makanan yang tidak ada bijinya," kata Saipul, Rabu, 23 September 2026.

Menurut dia, pemilihan menu untuk anak tidak cukup hanya mempertimbangkan kandungan gizi.

Cara makanan tersebut dikonsumsi juga perlu diperhitungkan, termasuk potensi tersedak.

Karena itu, Saipul meminta SPPG memilih makanan yang praktis dan aman dikonsumsi anak.

Termasuk menghindari makanan yang mengharuskan anak mengupas kulit atau membuang biji sendiri.

"Makanan harus dipastikan benar-benar higienis, serta memiliki cara penyajian dan cara konsumsi yang lebih mudah dan tidak berisiko," ujarnya.

Saipul mencontohkan buah kelengkeng dan salak sebagai jenis makanan yang perlu menjadi perhatian ketika hendak diberikan kepada siswa SD.

Sebab, anak-anak belum tentu memahami risiko ketika mengonsumsi buah yang memiliki biji.

Terlebih, aktivitas makan anak di sekolah tidak selalu berlangsung dalam kondisi tenang.

"Kalau anak-anak makan buah kelengkeng tetapi tidak paham bagaimana cara membuang bijinya, bisa saja buah tersebut tertelan bulat-bulat beserta bijinya," jelasnya.

"Terlebih lagi, anak-anak ini kan sering kali makan sambil bermain dan melakukan aktivitas lainnya," tambahnya.

Menurut Saipul, kondisi tersebut menjadi alasan perlunya SPPG memikirkan kembali bentuk dan cara penyajian makanan sebelum menu didistribusikan kepada siswa.

"Hal inilah yang harus kita imbau kepada pihak SPPG agar mereka benar-benar memperhatikan dan memikirkan risiko tersebut," tegasnya.

Diketahui, siswa kelas 3 SDN 03 Poncowarno, Lampung Tengah, Reyhan Arisyah Putra (9), meninggal dunia setelah tersedak buah kelengkeng yang menjadi bagian dari menu MBG, Selasa, 22 September 2026.

Berdasarkan keterangan polisi, korban diduga memakan kelengkeng sambil bermain dan berlari-larian hingga buah tersebut menyumbat saluran pernapasannya.

Korban sempat mendapat pertolongan dari teman dan pihak sekolah sebelum dibawa ke Puskesmas Poncowarno.

Lalu korban dirujuk ke RS Kartini Kalirejo. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa beberapa saksi.

Sementara pihak keluarga menolak dilakukan autopsi.

Peristiwa tersebut kemudian mendapat sorotan terkait aspek keselamatan makanan dalam pelaksanaan program MBG.

Bagi Satgas MBG Lampung, kejadian ini menjadi pengingat bahwa menu makanan untuk anak sekolah perlu dirancang dengan mempertimbangkan bukan hanya nilai gizi.

Namun juga usia penerima, bentuk makanan, kemudahan konsumsi, serta potensi risiko ketika dimakan.

Dengan demikian, evaluasi pemilihan menu di tingkat SPPG diharapkan dapat menjadi langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. (*)

 

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari