Monday, 19 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Tugas Danantara Ciptakan Ketahanan Pangan Untuk 290 Juta Jiwa Rakyat Indonesia

19 October 2026 11:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
Tugas Danantara Ciptakan Ketahanan Pangan Untuk 290 Juta Jiwa Rakyat Indonesia
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom (Komisaris Pelindo)

Kekhawatiran mengenai cara memenuhi kebutuhan pangan populasi yang terus bertambah bukanlah hal baru. Lebih dari dua abad yang lalu, ekonom sekaligus ahli demografi Thomas Robert Malthus memperingatkan bahwa pertumbuhan populasi pada akhirnya akan melampaui produksi pangan, yang berujung pada kelangkaan pangan dan kelaparan massal.

Kemajuan teknologi, inovasi pertanian, dan perdagangan global sebagian besar telah mencegah terjadinya "jebakan Malthus" tersebut. Namun, pertanyaan mendasar itu tetap relevan: bagaimana masyarakat dapat menjamin ketahanan pangan bagi populasi yang terus bertambah di tengah keterbatasan sumber daya dan tekanan lingkungan yang kian meningkat?

Setiap tahun, dana bernilai triliunan dolar mengalir melalui pasar modal global demi mencari imbal hasil. Namun, sektor pangan dan pertanian masih kesulitan menarik investasi dalam skala yang mereka butuhkan. Sementara sistem pangan nasional yang menyalurkan makanan dari lahan pertanian hingga ke meja makan hanya menerima Anggaran ketahanan pangan nasional Indonesia dialokasikan sebesar Rp210,4 triliun pada tahun 2026 dari total jumlah APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun, hanya 5,47% dari jumalah APBN 2026 namu bersyukur ada kenaikan sebesar  31,7% dibandingkan outlook tahun 2025 yang sebesar Rp159,7 triliun, yang artinya setiap satu penduduk Indonesia pada tahun 2026 hanya mendapatkan anggaran untuk ketahanan pangan sebesar Rp 724,137 jika dirata ratakan setiap bulannya hanya Rp 60,344/penduduk.

Mengapa begitu sulit menyalurkan modal ke salah satu sektor paling vital di Indonesia ini? Masalahnya bukan sekadar ketersediaan modal, melainkan kemampuan untuk menyalurkan modal tersebut ke peluang-peluang yang memenuhi kriteria investor terkait risiko, imbal hasil, dan skala.

Mengalihkan sistem pangan dari tahap uji coba ke tahap portofolio

Model keuangan yang mampu memobilisasi modal komersial ke dalam sistem pangan telah diidentifikasi dan diuji. Para pemimpin pengadaan perusahaan kini sedang mengubah strategi pengadaan untuk menciptakan sinyal permintaan jangka panjang yang dibutuhkan investor, sembari tetap mematuhi seluruh hukum dan peraturan persaingan usaha serta antimonopoli. 

Selain itu, struktur pembiayaan yang dapat mempertemukan pemberi pinjaman komersial, lembaga keuangan infrastruktur dan pengembangan, dan modal filantropis bukan lagi sekadar teori—struktur tersebut sudah ada dan terbukti berjalan dalam praktik nyata.

Sebuah laporan baru dari World Economic Forum, From Pilots to Portfolios (Dari Uji Coba ke Portofolio), memanfaatkan kemajuan ini untuk menjabarkan seperti apa bentuk tindakan terkoordinasi di seluruh rantai investasi sistem pangan saat ini.

Portofolio proyek uji coba yang terus berkembang menunjukkan kesiapan pasar di sektor pertanian berkelanjutan dan sistem pangan. Tantangan saat ini adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan modal mengalir dengan keyakinan lebih tinggi dan terus mengalir agar solusi yang telah terbukti dapat diperluas cakupannya di berbagai rantai nilai dan wilayah geografis.

Hal ini memerlukan tindakan terkoordinasi di empat bidang yang saling bergantung:

1. Memperkuat sinyal permintaan

Investor dan pemberi pinjaman membutuhkan keyakinan bahwa investasi transisi akan menghasilkan imbal hasil yang dapat diprediksi. Sinyal permintaan yang lebih kuat dari perusahaan pangan, pedagang, dan pengecer dapat membantu memberikan keyakinan tersebut.

Komitmen pengadaan jangka panjang, program pengadaan yang dikaitkan dengan keberlanjutan, serta mekanisme pasar lainnya dapat meningkatkan visibilitas pendapatan dan memperkuat dasar pertimbangan bisnis untuk investasi.

Sebagai contoh, program Tomorrow's Dairy dari Rabobank—yang dikembangkan bersama Nestlé dan Vreugdenhil—menunjukkan bagaimana komitmen pengadaan perusahaan dapat lebih dari sekadar menunjukkan niat. Program ini mengaitkan premi harga secara langsung dengan petani yang menerapkan praktik keberlanjutan di lahan pertanian mereka, sehingga menciptakan stabilitas pendapatan yang membuat pemberian pinjaman kepada petani menjadi layak secara finansial.

Yang penting, premi ini dibayarkan kepada petani dan tidak dibebankan kepada konsumen melalui harga eceran yang lebih tinggi. Lebih dari €50 juta telah diinvestasikan untuk periode hingga tahun 2030, dan lebih dari 150 petani telah terlibat dalam program ini.

2. Membangun platform pembiayaan terkoordinasi

Tidak ada satu pun institusi yang dapat membiayai transisi sistem pangan sendirian. Pemberi pinjaman komersial, perusahaan asuransi, lembaga keuangan infrastruktur dan pengembangan, organisasi filantropis, dan pelaku korporasi masing-masing membawa kapabilitas serta selera risiko yang berbeda.

Platform pembiayaan terkoordinasi dapat membantu menyelaraskan para pelaku ini, mengalokasikan risiko secara lebih efektif, dan memobilisasi kumpulan modal yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang dapat disalurkan oleh satu institusi secara mandiri. Responsible Commodities Facility di Brasil memberikan gambaran nyata mengenai wujud pembiayaan terkoordinasi dalam praktiknya. Dengan memanfaatkan modal katalitik untuk menanggung risiko tahap awal, fasilitas ini menciptakan kondisi yang memungkinkan bank komersial menyalurkan pinjaman senior dalam skala besar. Fasilitas ini telah menyalurkan dana sebesar US$60 juta kepada 280 pertanian dalam satu siklus tanam.

3. Memperluas dukungan bagi petani dan infrastruktur pendukung di lapangan

Dukungan finansial memang diperlukan, namun tidaklah cukup. Petani yang beralih ke sistem produksi yang lebih berkelanjutan juga membutuhkan akses terhadap bantuan teknis, data agronomi, alat ukur, dan solusi manajemen risiko. Hal ini akan membantu mereka menghadapi perubahan dalam praktik pertanian, memantau hasil, serta memitigasi potensi kerugian hasil panen atau pendapatan selama masa transisi.

Penguatan infrastruktur di lapangan ini dapat mengurangi risiko pelaksanaan, meningkatkan kinerja pertanian, dan membangun rekam jejak yang dibutuhkan lembaga keuangan untuk menyalurkan pinjaman dengan penuh keyakinan.

Menggabungkan bantuan teknis dengan perlindungan asuransi dapat mengatasi keengganan petani dalam menghadapi risiko, yakni dengan menanggung premi asuransi di muka bagi petani yang berkomitmen memasok hasil panen mereka. Program asuransi tanaman kacang polong dari AXA Climate dan Axéréal telah berhasil melibatkan 400–500 petani yang menggarap lahan seluas 5.000–6.000 hektare di Prancis. 

Inisiatif ini memanfaatkan perlindungan pendapatan terhadap risiko gagal panen serta bantuan teknis untuk memitigasi risiko dalam transisi dari tanaman lain ke kacang polong—sebuah komoditas berkelanjutan namun secara historis memiliki tingkat volatilitas tinggi.

4. Menciptakan nilai dari hasil keberlanjutan

Banyak manfaat yang dihasilkan oleh sistem pangan berkelanjutan—seperti penurunan emisi, peningkatan kesehatan tanah, dan ketahanan yang lebih baik—belum sepenuhnya tercermin dalam insentif pasar.

Perluasan mekanisme yang mengakui dan memberikan imbalan atas hasil-hasil tersebut dapat memperkuat aspek ekonomi pertanian, menciptakan sumber pendapatan tambahan, serta meningkatkan daya tarik investasi transisi.

Soil Association Exchange Market, yang didanai oleh Lloyds dan perusahaan lainnya, memberikan imbalan finansial kepada petani yang menerapkan rencana aksi untuk mengurangi emisi karbon. Program ini menciptakan nilai tambah di luar sekadar pinjaman dengan mengombinasikan kredit konvensional dan pembayaran yang dikaitkan dengan perubahan praktik yang telah terverifikasi. Sebagai hasilnya, mitra perusahaan seperti Tesco, Lidl, dan Co-op dapat melaporkan penurunan langsung pada emisi Cakupan 3 (Scope 3) mereka.

Pendanaan bagi ketahanan sistem pangan

Kebutuhan untuk meningkatkan skala solusi sistem pangan—dari sekadar proyek percontohan menjadi portofolio yang lebih luas—muncul pada saat yang krusial. Berbagai guncangan ekstrem tengah menyingkap kerentanan sistem pangan, baik akibat konflik, rezim perdagangan baru, maupun cuaca ekstrem.

Dari Dalian hingga London, para pemimpin bertemu untuk merumuskan langkah-langkah dalam mendorong perubahan. Pihak-pihak yang turut membangun jalur-jalur ini tidak hanya akan mendukung terciptanya sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan, tetapi juga akan mengamankan keunggulan jangka panjang serta berperan membentuk generasi baru pendanaan transisi.

Pada bulan Juni 2026—saat diskusi dalam London Climate Action Week berfokus pada mobilisasi modal swasta dan peningkatan skala solusi iklim, serta saat para pemimpin berkumpul dalam Annual Meeting of the New Champions untuk menjajaki penggerak baru bagi pertumbuhan, inovasi, dan ketahanan—sistem pangan muncul sebagai ranah krusial bagi inovasi dan investasi.

Koordinasi yang lebih erat antara perusahaan, lembaga keuangan, pemerintah, dan petani sangatlah penting untuk menciptakan jalur transisi yang layak investasi. Pihak-pihak yang turut membangun jalur-jalur ini akan mendukung sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan, sekaligus membentuk generasi baru pendanaan transisi iklim.

Portofolio Danantara Di Sektor Pangan

sektor pangan ini adalah sektor yang pasti dengan bertumbuhnya perekonomian apalagi penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 290 juta, penduduk di Asia Tenggara yang hampir mencapai 800 juta dengan tingkat konsumsi protein di mana Indonesia pada saat ini masih memiliki tingkat konsumsi protein kurang lebih 40% di bawah rata-rata konsumsi protein di negara-negara yang sudah berkembang, dengan adanya target pertumbuhan ekonomi 8%, pertumbuhan penduduk dan juga peningkatan daripada konsumsi protein per penduduknya sendiri, maka akan meningkatkan permintaan terhadap bahan makanan. dengan adanya kondisi geopolitik yang ada ini kan juga akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana supply chain terhadap bahan pangan ini menjadi satu hal yang betul-betul menjadi hal yang sangat strategis.

Danantara akan memberikan dukungan penuh dalam pembiayaan, pengawasan, serta evaluasi agar program hilirisasi berjalan efektif dan memberikan dampak signifikan bagi petani dan pelaku usaha lokal. Menurut dia, seluruh rencana hilirisasi telah diidentifikasi dan dibagi kepada BUMN maupun badan yang berkompeten agar target dan perencanaan yang telah disusun dapat terlaksana secara cepat dan terukur. 

Dan Danantara telah menyepakati bersama Kementerian Pertanian untuk investasi hilirisasi pertanian, perkebunan, hortikultura hingga peternakan senilai Rp371 triliun demi membentuk kedaulatan pangan Indonesia.

Dampak hilirisasi pertanian berdampak luas dibanding sektor mineral, karena sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memperkuat perekonomian masyarakat di pedesaan. "Hilirisasi di bidang perkebunan, pertanian dan peternakan, mungkin dibandingkan dari segi investasinya di satu industri ini mungkin lebih banyak di mineral. Tetapi justru dari penciptaan lapangan pekerjaannya itu jauh lebih tinggi. 

Jauh lebih tinggi penciptaan lapangan pekerjaan di hilirisasi pertanian dan Perkebunan Seperti halnya hilirisasi komoditas kelapa sebagai salah satu fokus utama, mengingat Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar dunia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi. Program hilirisasi ini, lanjutnya, akan diadakan secara masif dan terintegrasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh petani kecil, pelaku UMKM, hingga industri pengolahan dalam negeri.

Dengan adanya dengan dukungan kebijakan Presiden Prabowo Subianto percepatan hilirisasi pertanian mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing nasional menuju kemandirian pangan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Berbagai Portofolio dan inisiatif Badan Pengelola Investasi (BPI Danantara) di sektor pangan berfokus pada penguatan ketahanan nasional, swasembada protein, dan rantai pasok global diantaranya 

1.Bisnis Daging Global (JBS Group): Danantara menggelontorkan investasi senilai Rp44,75 triliun (atau sekitar 2,5 miliar dolar AS) melalui perusahaan patungan dengan raksasa pengolahan daging JBS Group asal Brasil. Danantara memegang 25% saham untuk mengelola bisnis JBS di Australia dan Selandia Baru guna mengamankan akses protein daging sapi ke pasar Asia dan Indonesia

2.Hilirisasi Peternakan Ayam dan Unggas: Danantara menyiapkan anggaran sekitar Rp20 triliun untuk membangun peternakan ayam terintegrasi skala nasional. Proyek ini mencakup pembibitan, pakan, kesehatan hewan, logistik, hingga pemasaran untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta swasembada protein

3.Danantara menyiapkan proyek revitalisasi tambak seluas 20.413 hektare di wilayah Pantura dengan nilai investasi mencapai Rp26 triliun di bawah sektor ketahanan pangan dan akuakultur. 

4.Pengelolaan BUMN Lintas Sektor: Melalui Danantara Asset Management, lembaga ini mengelola portofolio BUMN terkait sektor pangan dan pupuk untuk menopang prioritas strategis nasional.

Ketahanan Pangan Tidak Cukup dengan Produksi: Pelabuhan Menjadi Kunci

Ketahanan pangan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dinamika geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta ketidakpastian perdagangan internasional menuntut Indonesia membangun sistem pangan yang tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga menjamin kelancaran distribusi dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Dengan jumlah penduduk yang mendekati 290 juta jiwa sebagaimana diproyeksikan dalam dokumen yang menjadi dasar kajian ini, persoalan pangan bukan lagi semata-mata urusan pertanian. Ketahanan pangan telah berkembang menjadi persoalan strategis yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi, pemerataan infrastruktur dan pengembangan, keamanan nasional, dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membuka peluang untuk memperkuat pembiayaan sektor pangan melalui investasi jangka panjang, pengembangan industri pengolahan, serta penguatan ekosistem bisnis dari hulu hingga hilir.

Pada November 2025, Kementerian Pertanian mengumumkan kesepakatan rencana investasi hilirisasi pertanian, perkebunan, hortikultura, dan peternakan senilai Rp371 triliun bersama Kementerian Investasi dan Hilirisasi yang dipimpin Rosan Roeslani. Rencana tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Namun, terdapat satu dimensi penting yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar dalam pembahasan investasi pangan nasional, yaitu infrastruktur logistik maritim. Investasi pangan tidak akan optimal apabila hasil produksi tidak dapat didistribusikan secara cepat, efisien, dan terjangkau. Di sinilah pelabuhan-pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Persero), atau Pelindo, memiliki peran strategis.

Teori Biaya Transaksi: Mengapa Efisiensi Pelabuhan Berpengaruh pada Harga Pangan?

Salah satu landasan analitis yang relevan adalah teori biaya transaksi (transaction cost economics) yang dikembangkan Oliver E. Williamson, dengan akar pemikiran pada karya Ronald Coase.

Teori ini menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya menimbulkan biaya produksi, tetapi juga biaya untuk memindahkan barang, mencari informasi, mengoordinasikan acara, menyimpan persediaan, dan mengelola ketidakpastian transaksi.

Dalam rantai pasok pangan, biaya-biaya tersebut dapat muncul dalam bentuk ongkos angkut dari sentra pertanian, biaya bongkar muat, biaya pergudangan, waktu tunggu kapal, penumpukan barang, kerusakan produk, dan keterlambatan distribusi.

Semakin panjang dan tidak efisien rantai distribusi, semakin besar pula kemungkinan biaya tersebut menekan margin petani, meningkatkan biaya usaha, atau diteruskan kepada konsumen.

Pelabuhan yang produktif, memiliki proses administrasi terintegrasi, serta didukung konektivitas transportasi yang baik dapat membantu mengurangi sebagian biaya tersebut.

Dalam hal ini, transformasi operasional Pelindo mempunyai relevansi langsung terhadap agenda ketahanan pangan. Pelindo melaporkan bahwa standardisasi dan peningkatan produktivitas layanan di beragam terminal telah memperpendek waktu tinggal kapal (port stay) dan meningkatkan efisiensi operasional. Perusahaan juga menempatkan digitalisasi dan konektivitas multimoda sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok nasional.

Meskipun demikian, perlu ditegaskan bahwa efisiensi pelabuhan tidak otomatis menurunkan harga pangan secara keseluruhan. Dampaknya bergantung pula pada biaya angkutan darat, kondisi jalan, ketersediaan armada, struktur pasar, biaya penyimpanan, dan tata niaga komoditas.

Artinya, kebijakan yang diperlukan bukan hanya mempercepat bongkar muat, melainkan mengintegrasikan seluruh mata rantai distribusi agar efisiensi dapat dirasakan hingga ke tingkat petani, pedagang, industri pengolahan, dan konsumen.

Danantara dan Pelindo dalam Perspektif Teori Rantai Nilai

Landasan berikutnya adalah teori rantai nilai (value chain) yang diperkenalkan Michael E. Porter. Dalam pendekatan ini, nilai ekonomi suatu produk tidak hanya ditentukan oleh proses produksinya, tetapi juga oleh rangkaian acara yang memungkinkan produk tersebut sampai kepada pelanggan dengan mutu, biaya, dan layanan yang kompetitif.

Pada sektor pangan, rantai nilai dimulai dari penyediaan benih, pupuk, pakan, dan sarana produksi. Selanjutnya terdapat acara budidaya, panen, pengumpulan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, distribusi, hingga pemasaran.

Setiap tahapan berpotensi menciptakan nilai tambah, tetapi juga dapat menjadi sumber pemborosan apabila tidak terhubung secara efektif.

Misalnya, peningkatan produksi ayam dan telur akan membutuhkan sistem distribusi yang mampu menjaga kontinuitas pasokan. Pengembangan industri pengolahan kelapa membutuhkan kepastian pengangkutan bahan baku dan pengiriman produk jadi. Revitalisasi tambak dan pengembangan akuakultur memerlukan fasilitas penyimpanan dingin serta distribusi yang dapat mempertahankan mutu produk perikanan.

Karena itu, investasi pada sektor pangan perlu mempertimbangkan kesiapan infrastruktur logistik sejak tahap perencanaan proyek.

Dalam pembagian peran yang ideal, Danantara dapat mengevaluasi kebutuhan investasi pada fasilitas pengolahan, pergudangan, pusat distribusi, dan infrastruktur pendukung yang memiliki kelayakan finansial serta manfaat ekonomi strategis. Sementara itu, Pelindo dapat berkontribusi melalui penyediaan dan peningkatan layanan kepelabuhanan, pengelolaan arus barang, integrasi dengan transportasi darat dan laut, serta pengembangan konektivitas menuju kawasan industri dan sentra produksi.

Pembagian peran ini merupakan usulan kerangka kolaborasi, bukan pernyataan bahwa seluruh proyek tersebut telah disepakati atau dijalankan bersama oleh kedua institusi.

Hubungan keduanya menjadi semakin penting ketika Indonesia berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. Hilirisasi yang berhasil bukan hanya mengubah bahan mentah menjadi produk olahan, tetapi juga membangun sistem yang memungkinkan produk tersebut dipasarkan secara kompetitif.

Dengan demikian, pelabuhan merupakan bagian dari rantai nilai industri pangan yang menentukan kecepatan perputaran modal, keandalan pasokan bahan baku, dan kemampuan produk nasional menjangkau pasar.

Teori Keunggulan Jaringan dan Ekonomi Regional: Pelabuhan sebagai Penggerak Pertumbuhan

Pelabuhan juga dapat dianalisis melalui perspektif ekonomi geografis dan teori ekonomi jaringan. Dalam pendekatan ini, konektivitas menurunkan hambatan jarak, memperluas jangkauan pasar, serta memungkinkan wilayah-wilayah yang memiliki keunggulan produksi berbeda saling melengkapi.

Indonesia memiliki karakter geografis kepulauan dengan persebaran sumber pangan, industri pengolahan, dan pusat konsumsi yang tidak selalu berada dalam wilayah yang sama.

Wilayah sentra produksi dapat menghasilkan surplus komoditas tertentu, sedangkan wilayah perkotaan atau kawasan industri membutuhkan pasokan yang berkelanjutan. Tanpa jaringan distribusi yang memadai, kelebihan pasokan di suatu daerah dapat berlangsung bersamaan dengan tingginya harga di daerah lain.

Pelabuhan yang terhubung dengan jaringan pelayaran domestik, jalan, kereta api, gudang, dan pusat distribusi dapat membantu memperlancar perpindahan komoditas antardaerah. Dalam konteks ini, Pelindo memiliki peluang untuk memperkuat peran pelabuhan sebagai simpul konsolidasi barang dan penghubung antara sentra produksi dengan pasar.

Peluang tersebut sejalan dengan pendekatan Pelindo dalam membangun konektivitas pelabuhan dengan kawasan industri dan jaringan transportasi pendukung. Namun, keberhasilan konektivitas tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kapasitas terminal. Jadwal kapal harus sesuai dengan pola produksi dan permintaan, kapasitas gudang harus memadai, fasilitas penanganan komoditas harus sesuai karakteristik barang, dan layanan transportasi lanjutan harus tersedia.

Untuk komoditas yang mudah rusak, misalnya, kecepatan pemindahan barang tanpa dukungan rantai dingin belum tentu cukup untuk menjaga mutu. Sebaliknya, fasilitas penyimpanan modern tidak akan optimal apabila pasokan listrik, jadwal transportasi, dan prosedur penanganan barang tidak terkoordinasi.

Oleh sebab itu, pelabuhan perlu dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem logistik pangan yang terintegrasi, bukan sebagai infrastruktur yang berdiri sendiri. Menghubungkan Investasi Danantara dengan Infrastruktur Pelabuhan Pelindo.

Penutup: Menyatukan Modal, Produksi, dan Konektivitas

Membangun ketahanan pangan bagi Indonesia yang berpenduduk besar merupakan pekerjaan lintas sektor. Pertanian membutuhkan teknologi dan pembiayaan. Industri pengolahan membutuhkan kepastian bahan baku dan pasar. Perdagangan membutuhkan distribusi yang efisien. Sementara itu, masyarakat membutuhkan ketersediaan pangan yang bermutu, terjangkau, dan stabil.

Dalam kerangka tersebut, Danantara memiliki peluang untuk memperkuat pembiayaan dan pengembangan investasi strategis di sektor pangan. Namun, efektivitas investasi akan sangat dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur yang menghubungkan produksi, pengolahan, dan pasar.

Pelindo menempati posisi strategis dalam ekosistem tersebut melalui pengelolaan pelabuhan, peningkatan produktivitas layanan, penguatan konektivitas, dan pengembangan sistem logistik maritim. Peran ini perlu dijalankan bersama pemerintah, BUMN pangan, perusahaan swasta, operator transportasi, pelaku usaha, serta petani dan nelayan.

Karena itu, agenda ketahanan pangan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai urusan meningkatkan produksi semata. Agenda tersebut perlu mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari investasi, budidaya, pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga akses masyarakat terhadap pangan.

Pada akhirnya, keberhasilan Danantara dalam mendukung ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal yang diinvestasikan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem ekonomi nasional mengubah modal tersebut menjadi produksi yang produktif, distribusi yang efisien, dan kesejahteraan yang merata. Dalam proses itu, pelabuhan-pelabuhan Pelindo bukan sekadar pintu masuk dan keluar barang, melainkan salah satu simpul strategis yang menghubungkan investasi dengan kedaulatan pangan Indonesia.

Apabila integrasi tersebut dirancang secara terukur, transparan, dan berorientasi pada kepentingan publik, pelabuhan dapat menjadi lebih dari sekadar infrastruktur perdagangan. Pelabuhan dapat menjadi penggerak pemerataan ekonomi, penguat ketahanan rantai pasok, dan bagian penting dari fondasi Indonesia menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari