Thursday, 08 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Anak Muda Tanggamus Berpeluang Kerja di Jepang, Gaji hingga Rp45 Juta

08 October 2026 16:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Anak Muda Tanggamus Berpeluang Kerja di Jepang, Gaji hingga Rp45 Juta
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

dibuka bagi generasi muda Tanggamus. Pemerintah Kabupaten Tanggamus tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan transportasi Jepang, WILLER Inc., yang berpotensi membuka kesempatan bagi warga Tanggamus usia produktif untuk bekerja di Negeri Sakura.

Peluang tersebut bukan sekadar tawaran bekerja ke luar negeri. Pemkab Tanggamus bersama pihak Jepang juga membahas penyiapan sumber daya manusia, mulai dari kemampuan bahasa hingga keterampilan teknis sesuai kebutuhan perusahaan.

Penjajakan kerja sama dilakukan Bupati Tanggamus, Mohammad Saleh Asnawi, bersama sebagian organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di Wisma Keiai, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Tanggamus Suhartono mengungkapkan, salah satu kebutuhan tenaga kerja yang tengah dibahas adalah sektor transportasi.

Menurutnya, WILLER Express saat ini membutuhkan tenaga kerja usia produktif yang nantinya akan mendapatkan pembekalan bahasa Jepang serta pelatihan keterampilan sesuai bidang pekerjaan.

“WILLER Express saat ini mencari tenaga kerja produktif yang nantinya akan dibekali kecakapan berbahasa Jepang dan pelatihan skill sesuai dengan bidang transportasi,” kata Suhartono, Kamis (8/10/2026).

Yang menarik, ujar Suhartono, peluang tersebut secara spesifik menyasar anak muda berusia 18 hingga 33 tahun. Salah satu posisi yang diproyeksikan adalah pengemudi bus.

“Tenaga kerja ini nantinya dilatih menjadi pilot bus atau sopir. Untuk masa percobaan satu tahun, informasinya penghasilan sekitar Rp20 juta, kemudian setelahnya berkisar Rp30 juta sampai Rp45 juta per bulan,” jelas Suhartono.

Jika terealisasi, angka tersebut tentu menjadi peluang ekonomi yang cukup besar bagi generasi muda Tanggamus.

Namun, kesempatan bekerja di luar negeri tidak cukup hanya bermodal usia dan kemampuan mengemudi.

"Calon pekerja juga dipersiapkan dengan kemampuan bahasa Jepang, dengan target kemampuan hingga Japanese-Language Proficiency Test (JLPT) level N3," ungkap Suhartono.

Lebih jauh Suhartono menjelaskan, penjajakan tersebut diarahkan melalui skema business to government (B2G).

WILLER Inc. sendiri merupakan perusahaan Jepang yang bergerak di bidang transportasi darat antarkabupaten dan antarprovinsi.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk membuka akses bagi tenaga kerja produktif asal Tanggamus sekaligus menyiapkan mereka agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar kerja Jepang.

"Artinya, pemerintah daerah tidak hanya dituntut membuka pintu keberangkatan, tetapi juga memastikan calon pekerja benar-benar memiliki bekal yang memadai," kata dia.

Terlebih, bekerja di luar negeri membawa konsekuensi berbeda dengan bekerja di dalam negeri. Bahasa, budaya kerja, aturan ketenagakerjaan, kontrak, biaya keberangkatan dan perlindungan pekerja harus menjadi bagian penting yang dijelaskan secara terbuka kepada calon tenaga kerja.

Peluang kerja ke Jepang bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Tanggamus.

Data Dinas Tenaga Kerja Tanggamus mencatat, sepanjang 2023 hingga 2025 sebanyak 2.893 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Tanggamus telah ditempatkan ke berbagai negara.

Pemkab Tanggamus juga sebelumnya telah menjalankan program pemagangan luar negeri melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI dan IM Japan.

Dengan pengalaman tersebut, penjajakan kerja sama dengan WILLER Inc. menjadi peluang baru yang lebih spesifik karena menyasar kebutuhan tenaga kerja di sektor transportasi Jepang.

Suhartono menginginkan kesempatan tersebut dapat menjadi alternatif bagi anak muda Tanggamus untuk memperoleh pekerjaan sekaligus meningkatkan kompetensi.

“Harapannya, peluang ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi pemuda Tanggamus untuk mendapatkan kesempatan kerja di luar negeri dengan pembekalan yang baik, sekaligus meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan mereka,” ujar Suhartono.

Menariknya, kata Suhartono, pertemuan dengan pihak Jepang tidak hanya membahas tenaga kerja. Pemkab Tanggamus juga memperkenalkan berbagai potensi daerah yang berpeluang dikembangkan melalui hubungan ekonomi dengan Jepang.

Mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, potensi desa hingga investasi.

Berdasarkan data Bapperida Tanggamus, produksi kopi pada 2025 mencapai 39.239 ton. Komoditas ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat karena lebih dari 41 ribu kepala keluarga menggantungkan penghidupannya pada sektor kopi.

Produksi kelapa juga menunjukkan peningkatan. Pada 2021 produksinya tercatat 15.891 ton, kemudian meningkat menjadi 21.988 ton pada 2025.

Potensi perikanan tangkap laut juga diperkenalkan kepada calon mitra Jepang. Begitu pula sektor pariwisata dengan sebagian destinasi unggulan seperti Gigi Hiu dan Teluk Kiluan.

Dengan demikian, hubungan Tanggamus dengan Jepang diharapkan tidak berhenti pada urusan mengirim tenaga kerja.

"Ada peluang yang jauh lebih besar: investasi, pengembangan komoditas unggulan, peningkatan kompetensi tenaga kerja, pengembangan potensi desa dan perluasan pasar produk daerah," ungkap Suhartono.

Heri,  salah seorang warga Kecamatan Kotaagung menyebutkan, penjajakan kerja sama dengan WILLER Inc. kini tinggal menunggu langkah lanjutan. Sebab, bagi anak muda Tanggamus, informasi mengenai peluang bekerja dengan penghasilan puluhan juta rupiah tentu menggiurkan.

Tetapi pemerintah daerah perlu memastikan seluruh proses berjalan transparan.

"Calon pekerja harus mengetahui secara jelas persyaratan, mekanisme seleksi, pelatihan, biaya keberangkatan, kontrak kerja, besaran penghasilan yang diterima, fasilitas selama bekerja hingga jaminan perlindungan ketika berada di Jepang,"  ujar Heri.

Mahesa, warga lainnya menyebutkan, jangan sampai masyarakat hanya mendengar angka Rp20 juta hingga Rp45 juta per bulan, tetapi tidak mengetahui secara utuh kewajiban dan konsekuensi yang menyertainya.

Karena pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak diukur dari seberapa bagus kerja sama itu dibicarakan di ruang pertemuan.

"Keberhasilannya akan terlihat ketika anak-anak muda Tanggamus benar-benar memperoleh pekerjaan, berangkat secara resmi, terlindungi dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya," kata dia.

Untuk saat ini, pintu Jepang baru mulai diketuk. Tinggal bagaimana Pemkab Tanggamus memastikan pintu itu benar-benar terbuka bagi anak muda daerah, bukan berhenti sebagai penjajakan di atas meja.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari