Thursday, 10 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

‎Bukan Abu Krakatau, Kemarau Panjang Jadi Ancaman Produksi Padi Tanggamus

10 September 2026 13:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
‎Bukan Abu Krakatau, Kemarau Panjang Jadi Ancaman Produksi Padi Tanggamus
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

‎Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanggamus memastikan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau belum memberikan dampak signifikan terhadap tanaman padi maupun target produksi pertanian di wilayah tersebut.

‎Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanggamus, Rachmat Hidayat, S.P., mengungkapkan kondisi tanaman padi di beragam wilayah masih aman.

Menurutnya, abu vulkanik tidak terlalu berpengaruh terhadap pertanaman maupun target produksi padi tahun ini.

‎"Untuk abu vulkanik tidak terlalu berpengaruh, baik dari pertanaman maupun target produksi," kata Rachmat saat mendampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Tanggamus Alkat Alamsyah, Kamis (10/9/2026).

‎Rachmat menjelaskan, usia tanaman padi di Kabupaten Tanggamus saat ini tidak seragam. Sebagian tanaman sudah memasuki masa panen, sementara sebagian lainnya masih berusia muda.

‎Di wilayah Way Pring, Kecamatan Pugung, misalnya, tanaman padi yang ada saat ini rata-rata baru berusia sekitar 15 hari.

Kondisi tersebut membuat tanaman belum terlalu terdampak oleh paparan abu vulkanik.

‎Menurut Rachmat, abu vulkanik dapat memberikan pengaruh terhadap tanaman padi apabila menumpuk cukup tebal pada daun, terutama pada tanaman yang sudah berusia sekitar dua bulan.

Kondisi tersebut dapat menghambat proses fotosintesis karena sinar matahari terhalang oleh abu.

‎"Kalau tanaman yang sudah dua bulan ada pengaruhnya karena tanaman tertutup abu vulkanik sehingga mengganggu proses fotosintesis. Matahari tidak bisa langsung mengenai tanaman karena daunnya tertutup abu," ujarnya.

‎Namun, petani dapat membersihkan abu yang menempel pada tanaman dengan cara menghempaskannya secara hati-hati.

Selain itu, Rachmat menyebut abu vulkanik dalam jangka panjang dapat memberikan manfaat bagi tanah karena dapat menjadi sumber unsur hara.

‎"Justru abu vulkanik untuk jangka panjang sangat berguna. Ke depan akan menjadi unsur hara, jadi pupuk. Tanah-tanah paling subur di Indonesia hari ini adalah anak kandung dari gunung api," katanya.

‎Hingga Kamis (10/9/2026), Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Tanggamus juga belum menerima laporan dari penyuluh mengenai kerusakan signifikan pada tanaman padi akibat abu vulkanik.

‎"Belum ada laporan dari para penyuluh terkait dampak abu vulkanik ini," ungkap Rachmat.

‎Ia memastikan target produksi gabah kering panen (GKP) Kabupaten Tanggamus tahun 2026 masih sebesar 198 ribu ton. Pihaknya belum melihat adanya indikasi penurunan produksi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

‎"Insya Allah tidak ada (penurunan produksi). Dari target produksi kita tahun ini sebanyak 198 ribu ton gabah kering panen," jelasnya.

‎Meski demikian, Rachmat menyebut terdapat ancaman lain yang perlu menjadi perhatian, yakni potensi musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.

‎"Yang ditakutkan justru bukan abu vulkanik, tetapi musim kemarau," tegasnya.

‎Ia mengungkapkan berdasarkan prakiraan cuaca, musim kemarau berpotensi berlangsung hingga Januari 2027.

Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap tanaman padi yang saat ini masih berusia muda dan membutuhkan ketersediaan air pada beberapa bulan mendatang.

‎"Karena sekarang ini usia tanaman 15 hari. Oktober, November sampai Desember itu kan sudah panen, tetapi masih kemarau. Kalau tidak ada curah hujan juga, kita bingung," ujarnya.

‎Untuk mengantisipasi kekurangan air, pemerintah telah memberikan bantuan puluhan unit pompa kepada petani. Namun, Rachmat mengungkapkan penggunaan pompa tetap bergantung pada ketersediaan sumber air.

‎"Walaupun kita sudah memberikan bantuan puluhan pompa dari pusat, kalau tidak ada sumber airnya tetap saja mubazir," pungkasnya.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari