Thursday, 10 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Mohon Hujan dan Keselamatan, Pemprov Lampung Gelar Salat Istisqa di Tengah Erupsi Anak Krakatau

10 September 2026 11:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Mohon Hujan dan Keselamatan, Pemprov Lampung Gelar Salat Istisqa di Tengah Erupsi Anak Krakatau
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

(Pemprov) Lampung menggelar doa bersama dan Salat Istisqa di Lapangan Korpri, Kompleks Kantor Orang nomor satu di Lampung, Kamis (9/9/2026).

Salat Istisqa tersebut diselenggarakan sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan, keselamatan, ketenangan, serta perlindungan Allah SWT bagi seluruh masyarakat Lampung di tengah kondisi kemarau panjang dan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Salat diikuti Orang nomor satu di Lampung Rahmat Mirzani Djausal, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Lampung, serta masyarakat sekitar.

saat memberikan arahan, Orang nomor satu di Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan masyarakat Lampung dalam beberapa waktu terakhir tengah menghadapi ujian berupa erupsi Gunung Anak Krakatau dan kemarau panjang.

Menurut Mirza, kondisi tersebut telah memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari berkurangnya sumber air hingga terganggunya aktivitas pertanian dan kesehatan.

"Beberapa waktu belakangan ini kita rasakan bersama bahwa daerah kita, Provinsi Lampung yang kita cintai ini, sedang diuji dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dan juga kemarau yang panjang,” kata Mirza.

Ia menyebut, beberapa sumber air mulai mengering, sementara lahan-lahan pertanian mengalami kekurangan pasokan air. Di sisi lain, debu dan panas ekstrem juga mulai mengganggu kesehatan serta aktivitas masyarakat sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, Mirza mengajak seluruh masyarakat untuk tidak hanya melakukan ikhtiar secara lahiriah, tetapi juga memperkuat ikhtiar spiritual dengan melakukan introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurutnya, dalam perspektif Islam, musibah kekeringan tidak semata-mata dipandang sebagai fenomena alam, tetapi juga menjadi momentum bagi manusia untuk melakukan muhasabah dan introspeksi diri.

"Dalam Islam, tentunya musibah kekeringan ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Ini adalah saatnya bagi kita semua untuk bermuhasabah dan berintrospeksi diri,” ujarnya.

Mirza menyampaikan, manusia perlu menyadari kemungkinan adanya kelalaian, kurangnya rasa syukur, maupun kurangnya kepedulian terhadap alam yang harus menjadi bahan perenungan bersama.

Ia menekankan, pemerintah bersama seluruh pihak telah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi persoalan yang terjadi di Lampung, termasuk mitigasi aktivitas Gunung Anak Krakatau, penanganan kekeringan, hingga penanggulangan bencana kebakaran.

Pemerintah juga terus memberikan informasi dan imbauan kepada masyarakat agar menjaga kesehatan. Namun, Mirza mengingatkan bahwa berbagai upaya manusia tetap memiliki keterbatasan.

"Sebesar apa pun ikhtiar pemerintah, sebesar apa pun ikhtiar masyarakat, dan sebesar apa pun ikhtiar seluruh makhluk di muka bumi ini, kita tetap memiliki keterbatasan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mirza mengutip Surah An-Nisa ayat 28 yang mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah.

Ia juga mengutip Surah Al-Insan ayat 30 yang menjelaskan bahwa manusia tidak mampu menempuh suatu jalan kecuali atas kehendak Allah SWT.

Menurut Mirza, kedua ayat tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap usaha yang dilakukan manusia harus terdapat kesadaran bahwa hasil akhirnya tetap berada di bawah kehendak dan kuasa Allah SWT.

"Kita telah berusaha sebaik-baiknya, kita berdoa dengan sungguh-sungguh, dan kita serahkan seluruh hasilnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,” katanya.

Mirza menekankan, Salat Istisqa yang diselenggarakan bukan hanya dimaknai sebagai permohonan agar hujan segera turun. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi momentum untuk menundukkan hati, memperbanyak istigfar, memohon ampun atas segala kekhilafan, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.

Ia mengajak masyarakat untuk memperbaiki amal dan hubungan dengan Allah SWT sekaligus menjadikan kondisi yang sedang dihadapi sebagai momentum untuk melakukan evaluasi diri.

"Oleh karena itu, Salat Istisqa yang kita laksanakan hari ini bukan semata-mata tentang memohon turunnya hujan. Ini adalah momen bagi kita untuk menundukkan hati,” ujar Mirza.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Lampung mengikuti doa bersama dengan hati yang tulus dan ikhlas, tanpa kebencian, dendam, hasad maupun dengki.

Mirza mengharapkan seluruh masyarakat dapat memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh, disertai niat bertobat dan kesadaran atas keterbatasan manusia.

"Mari bersama-sama dengan hati yang tulus dan ikhlas, tanpa ada rasa kebencian, dendam, hasad maupun dengki, serta dengan niat tobat yang sungguh-sungguh dan menyadari kelemahan diri, kita ketuk pintu langit dengan doa-doa yang tulus,” katanya.

Di akhir sambutannya, Mirza memanjatkan harapan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa masyarakat Lampung, menerima tobat, serta segera menurunkan hujan yang penuh keberkahan.

Ia mengharapkan hujan yang turun nantinya dapat menghidupkan kembali bumi yang mengalami kekeringan dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat, hewan, serta tumbuh-tumbuhan.

"Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa-dosa kita, menerima tobat kita, dan segera menurunkan hujan yang penuh berkah. Hujan yang menghidupkan bumi yang mati, serta hujan yang akan membawa manfaat bagi kelangsungan hidup kita, hewan, dan tumbuh-tumbuhan di sekitar kita,” pungkasnya.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari