BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sosial dan ekonomi para nelayan di wilayah Kota Bandar Lampung.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung mencatat kawasan pesisir mulai mengalami fluktuasi pasokan dan efisiensi melaut akibat sebaran abu vulkanik serta faktor cuaca buruk.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung, Ricardo BNW, mengonfirmasi bahwa dampak dari peningkatan erupsi tersebut terfokus di beberapa titik utama pesisir kota.
Menurut Ricardo, wilayah yang paling terdampak langsung berada di tiga kecamatan utama, yaitu Kecamatan Panjang, Telukbetung Timur, dan Bumi Waras.
Ricardo menjelaskan bahwa populasi nelayan yang menggantungkan hidupnya di kawasan pesisir tiga kecamatan tersebut mencapai ratusan orang.
"Jumlah nelayan di wilayah Kecamatan Panjang, Telukbetung Timur, dan Bumi Waras tercatat kurang lebih 688 nelayan," kata Ricardo.
Berdasarkan pemantauan dinas, dampak paling signifikan yang dirasakan nelayan saat ini adalah marjinalisasi pasokan dan penurunan hasil tangkapan ikan secara umum.
"Hasil penangkapan turun sekitar 20 persen dari sebelum adanya abu vulkanik," ungkapnya.
Secara matematis, penurunan ini memicu lesunya aktivitas pemasaran ikan lokal di pelabuhan pendaratan nelayan setempat.
Berdasarkan pendataan armada, dari total 688 nelayan tersebut, tercatat 423 orang di antaranya merupakan pemilik kapal perikanan.
Namun, dinamika erupsi gunung anak Krakatau membuat operasional laut tidak berjalan optimal di mana sekitar 154 unit kapal saat ini memilih tidak melaut.
Ricardo menuturkan bahwa sebagian armada sisanya yang menyandar di dermaga kini sedang berada dalam proses perbaikan berkala maupun tertahan alasan teknis lainnya.
Meski demikian, pihak dinas memastikan bahwa belum ada kerusakan ekosistem laut skala besar yang melumpuhkan wilayah perairan ibu kota provinsi tersebut secara menyeluruh.
"Untuk wilayah Bandar Lampung secara keseluruhan belum ada dampak yang signifikan. Sampai saat ini juga belum ada pemeriksaan atau pengambilan sampel air laut," jelas Ricardo.
Di sisi lain, respons pesisir dan kondisi riil di lapangan turut dirasakan oleh komunitas nelayan di wilayah pesisir Lampung, termasuk Pulau Pesawaran dan Pulau Pasaran.
Berdasarkan pantauan langsung, situasi aktivitas warga pesisir perlahan berangsur normal meskipun ancaman angin kencang masih membayangi.
Adi Mukhlis, nelayan Pulau Pasaran warga Bronjong Sukabanjar, Teluk Betung Timur, menceritakan fenomena hujan abu pekat yang sempat mengguyur area Pulau Pesawaran.
Ia menyebutkan paparan abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau turun serentak sesudah waktu maghrib pada Sabtu (5/9) sekitar pukul 18.30 hingga 19.00 WIB, diawali kabut tajam dan fenomena 'rambut hitam' di udara.
Kendati mengalami hujan abu tipis hingga tebal, Adi memastikan kualitas dan pergerakan air laut di wilayah perairan Teluk Betung tidak mengalami penurunan ekstrem.
"Warna air tetap normal seperti biasa, berwarna hijau, tanpa ada pengaruh langsung dari abu vulkanik," ujar Adi.
Sementara itu, pengelola ikan Pulau Pasaran, Dasuki, menyebut penurunan produktivitas hingga 40 persen di wilayahnya lebih dipengaruhi kombinasi kehati-hatian nelayan serta siklus kemarau dan angin kencang.