Tuesday, 08 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kasus ISPA di Tanggamus Lampung Melonjak Jadi 326 Kasus

08 September 2026 12:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Kasus ISPA di Tanggamus Lampung Melonjak Jadi 326 Kasus
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

(ISPA) di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung mulai menunjukkan tekanan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Senin (7/9/2026), tercatat 326 kasus ISPA dari 1.329 kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang masuk dalam surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus.

Angka itu menjadi sinyal kewaspadaan di tengah paparan abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang dirasakan di beberapa wilayah Tanggamus.

Dinas Kesehatan mengingatkan, 326 kasus tersebut belum dapat serta-merta dinyatakan seluruhnya sebagai dampak abu vulkanik.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, dr. Herry Novrizal menyampaikan, angka tersebut merupakan data resmi surveilans yang dihimpun melalui laporan puskesmas.

"Pada Senin, 7 September 2026, tercatat 1.329 kunjungan pasien dengan 326 kasus ISPA, atau sekitar 24,5 persen dari total kunjungan yang dilaporkan," kata Herry, Selasa (8/9/2026).

Data tersebut, kata dia, merupakan bagian dari pemantauan dampak kesehatan masyarakat selama periode terjadinya paparan abu vulkanik.

"Meski demikian, angka 326 kasus belum merupakan angka final seluruh Kabupaten Tanggamus," ujar Herry.

Herry menjelaskan, saat laporan tersebut disusun, masih terdapat dua puskesmas yang belum menyampaikan laporan, yakni Puskesmas Waynipah (Kecamatan Pematangsawa) dan Puskesmas Gunung Sari (Kecamatan Ulubelu).

Dengan demikian, angka 326 merupakan jumlah berdasarkan laporan yang telah diterima Dinas Kesehatan dan belum dapat menggambarkan keseluruhan kondisi dari 26 puskesmas.

"Dua puskesmas belum menyampaikan laporan. Karena itu, angka 326 merupakan angka berdasarkan laporan yang telah diterima dan belum dapat disebut sebagai angka final seluruh 26 puskesmas sebelum seluruh laporan masuk dan dilakukan validasi," ujarnya.

Perubahan angka ISPA tersebut cukup mencolok jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya. Pada Minggu (6/9/2026), Dinas Kesehatan mencatat 158 kunjungan dengan 74 kasus ISPA. Sehari kemudian, jumlah kunjungan melonjak menjadi 1.329, dengan 326 kasus ISPA.

Secara absolut, kasus ISPA meningkat lebih dari empat kali lipat. Namun, ada fakta lain yang tidak kalah penting.

Jika dilihat berdasarkan proporsi terhadap seluruh kunjungan, persentasenya justru turun dari 46,8 persen pada 6 September menjadi 24,5 persen pada 7 September.

Menurut Herry, dua angka tersebut harus dibaca secara bersamaan agar masyarakat tidak mendapatkan kesimpulan yang keliru.

Peningkatan kasus secara absolut dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain meningkatnya paparan abu atau debu, mobilitas masyarakat, pola kunjungan ke fasilitas kesehatan, hingga meningkatnya kewaspadaan warga sehingga lebih banyak memeriksakan diri.

Dinas Kesehatan, kata Herry, masih melakukan analisis epidemiologis untuk mengetahui faktor yang paling berkontribusi terhadap perubahan tersebut.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan melakukan pemantauan terhadap tingkat keparahan pasien. Tidak semua penderita ISPA membutuhkan rawat inap, oksigen, ataupun rujukan.

Pasien dengan gejala ringan dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan sesuai standar. Sementara pasien dengan gangguan pernapasan lebih berat akan mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk pemberian oksigen atau rujukan apabila diperlukan secara klinis.

Untuk saat ini, data agregat mengenai jumlah pasien yang menjalani rawat inap, penggunaan oksigen, dan rujukan masih dalam proses konsolidasi.

Dinas Kesehatan juga telah mengarahkan puskesmas untuk meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk memastikan ketersediaan obat-obatan, masker, oksigen, tenaga kesehatan, serta kesiapan fasilitas pelayanan.

Pemantauan kebutuhan dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah sehingga dukungan dapat segera diberikan apabila terjadi peningkatan kebutuhan.

Di tengah meningkatnya kewaspadaan tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang justru memperbesar paparan abu vulkanik. Salah satunya adalah menyapu abu dalam kondisi kering.

Herry meminta masyarakat membasahi abu terlebih dahulu sebelum membersihkannya. Penggunaan masker juga sangat dianjurkan, terutama ketika membersihkan lingkungan.

"Jika memungkinkan, masyarakat juga menggunakan pelindung mata untuk mengurangi risiko iritasi," kata Herry.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari