Sunday, 20 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Pilrek Unila 2027, Prof Yulianto: Rektor Harus Institutional Builder

20 September 2026 16:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
Pilrek Unila 2027, Prof Yulianto: Rektor Harus Institutional Builder
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 mulai menyita perhatian civitas akademika. 

Diskusi mengenai kriteria ideal sosok yang layak memimpin kampus hijau tersebut kini hangat diperbincangkan.

Mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni Unila periode 2020–2023, Prof. Dr. Yulianto, M.S., turut memberikan pandangan dinamika ini. 

Menurutnya, pemikiran civitas akademika perlu digeser dari sekadar mencari akademisi unggul (academic star) menuju sosok pembangun institusi (institutional builder).

Prof Yulianto tak menampik bahwa gelar profesor dan rekam jejak publikasi internasional bereputasi merupakan modal akademik yang penting untuk memperkuat kredibilitas calon pimpinan. 

Namun, ia menekankan agar proses pemilihan tidak terjebak pada credentialism yaitu kecenderungan menilai calon semata-mata dari gelar formal, jabatan akademik, atau daftar prestasi personal.

"Persoalannya bukan apakah seorang rektor harus memiliki prestasi akademik, melainkan bagaimana prestasi akademik tersebut diterjemahkan menjadi kapasitas institusional. Academic capital akan memiliki nilai strategis apabila mampu dikonversi menjadi institutional capacity," terangnya.

Lebih lanjut, Prof. Yulianto menjelaskan bahwa memimpin universitas jauh melebihi tugas kepemimpinan riset atau pencapaian gelar individual. 

Perguruan tinggi merupakan organisasi kompleks yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, pemerintah, dunia usaha/industri, alumni, hingga mitra internasional

Oleh karena itu, seorang rektor dituntut memiliki kecakapan manajerial yang komprehensif, meliputi pengelolaan sumber daya manusia, keuangan, tata kelola (governance), pelayanan, hingga mitigasi konflik kepentingan.

"Seorang rektor membutuhkan kapasitas yang lebih luas daripada sekadar rekam jejak akademik. Ia membutuhkan integritas, keberanian mengambil keputusan, kecakapan membangun kolaborasi, serta visi institusional yang nyata," tegasnya.

//Cermin dari Perguruan Tinggi Lain

Dalam pandangannya, pengalaman dari berbagai kampus nasional maupun internasional menunjukkan bahwa kepemimpinan universitas yang sukses dapat lahir dari latar belakang akademik yang beragam.

Di tingkat nasional, terdapat beberapa contoh rektor yang saat terpilih belum berstatus profesor namun terbukti mampu memimpin kampus dengan baik. Di antaranya Dr. Alim Setiawan S. Selamet (PAW Rektor IPB University 2025–2028), Dr. Indra Cahyadinata (Rektor Universitas Bengkulu 2025–2029), Dr. Joseph Philip Kambey (Rektor UNIMA 2025–2029), serta Dr. Ismet Ruchimat (Rektor ISBI Bandung 2026–2030).

Bahkan di kancah internasional, Purdue University di AS pernah dipimpin oleh Mitchell E. "Mitch" Daniels Jr. (2013–2022) yang bukan bergelar profesor maupun Ph.D, melainkan berlatar belakang hukum (J.D.) dan manajemen pemerintahan. 

Di bawah kepemimpinannya, sambung Prof Yulianto, bahwa Purdue mencatatkan berbagai gebrakan strategis seperti efisiensi biaya kuliah hingga ekspansi kemitraan industri.

Prof Yulianto juga mengingatkan bahwa ukuran sejati kepemimpinan seorang rektor terletak pada legacy atau warisan institusional yang ditinggalkan setelah masa jabatan usai.

"Ukuran kepemimpinan tidak berhenti pada apa yang terjadi selama seseorang memegang jabatan. Ukuran yang lebih mendalam terletak pada apa yang tersisa setelah jabatan itu berakhir apakah sistemnya menjadi lebih kuat, SDM-nya berkembang, dan tata kelolanya semakin baik untuk generasi berikutnya," pungkasnya. (Gie/

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari