Friday, 02 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

21 Kali Karhutla Terjadi di TN Way Kambas, Luas Terbakar Capai 7.000 Hektare

02 October 2026 11:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
21 Kali Karhutla Terjadi di TN Way Kambas, Luas Terbakar Capai 7.000 Hektare
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur.

Sepanjang tahun 2026 ini, tercatat sebanyak 21 kejadian kebakaran dengan total luasan area yang terbakar mencapai sekitar 7.000 hektare.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), MHD Zaidi, menyampaikan luasan area yang terbakar sepanjang 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025.

Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan kondisi pada periode El Nino 2023 maupun tahun 2024.

“Hingga saat ini tercatat 21 kejadian karhutla dengan luas area terbakar sekitar 7.000 hektare. Luasan ini meningkat dibandingkan tahun 2025, tetapi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan periode El Nino 2023 dan tahun 2024,” kata Zaidi saat dimintai keterangan, Jum'at (2/10/2026).

Saat ini, tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman di beberapa titik kebakaran. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, fokus penanganan diarahkan ke titik api di Grid 33 U.

Zaidi menjelaskan, kondisi medan menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Area yang terbakar didominasi semak belukar dengan karakteristik tanah gambut sehingga api berpotensi bertahan lebih lama dan kembali muncul dari bagian lahan yang masih menyimpan bara.

“Bahan bakar pada lokasi terbakar berupa semak belukar dengan karakteristik tanah gambut, sehingga proses pemadaman membutuhkan suplai air dan waktu yang lebih lama,” ujar Zaidi.

Selain titik api utama, petugas juga menemukan titik api baru di Titik B yang merupakan sisa kebakaran pada 30 September 2026. Di lokasi tersebut masih ditemukan bagian yang kembali mengeluarkan asap sehingga membutuhkan penanganan lanjutan untuk memastikan api benar-benar padam.

Pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan BPBD Provinsi Lampung, BNPB, Balai TNWK, BPBD Lampung Timur, serta unsur terkait lainnya.

"Upaya penanganan dilakukan melalui dua metode, yakni pemadaman dari udara menggunakan helikopter dengan teknik water bombing dan pemadaman langsung dari darat," katanya.

Di tengah upaya pemadaman, Balai TNWK terus memperkuat langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali meluas.

Kolaborasi dilakukan bersama pemerintah daerah, masyarakat desa penyangga, dunia usaha, TNI/Polri, serta berbagai pihak lainnya.

Menurut Zaidi, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh Balai TNWK secara sendiri. Kecepatan dalam mendeteksi kemunculan api dan meresponsnya sejak tahap awal menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

“Pencegahan maupun penindakan terhadap kejadian karhutla tidak mungkin dilakukan oleh TNWK sendiri. Upaya bersama dalam kecepatan mendeteksi dan merespons api pada tahap awal menjadi sangat penting agar api tidak pernah muncul lagi di TNWK,” katanya.

Balai TNWK mendorong terwujudnya kondisi zero fire spot di kawasan konservasi tersebut. Untuk mencapai tujuan itu, penguatan patroli, sistem deteksi dini, respons cepat, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian kebakaran.

"Selain pencegahan, aspek penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran juga menjadi perhatian. Penanganan karhutla membutuhkan dukungan aparat penegak hukum bersama Polisi Kehutanan (Polhut) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) TNWK," tuturnya.

Penegakan hukum dinilai penting untuk memberikan efek pencegahan sekaligus memastikan setiap dugaan pelanggaran terkait pembakaran kawasan hutan dapat ditindak sesuai ketentuan yang berlaku.

Di tengah penanganan karhutla, aktivitas patroli rutin di kawasan TNWK juga terus dilakukan. Petugas melakukan pencatatan dan perekaman berbagai temuan sekunder satwa sebagai bagian dari agenda pemantauan kondisi keanekaragaman hayati di kawasan terdampak maupun wilayah sekitarnya.

Pemantauan satwa, khususnya gajah, juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi GPS Collar.

"Perangkat tersebut membantu petugas memperoleh informasi mengenai keberadaan gajah secara real time, sehingga pergerakan satwa dapat dipantau dan menjadi bagian dari pengelolaan serta perlindungan satwa di kawasan taman nasional," katanya.

Hingga saat ini, Balai TNWK menyebutkan belum menemukan adanya kejadian kematian satwa di lokasi bekas kebakaran.

Kondisi tersebut tetap menjadi perhatian petugas karena kawasan TNWK merupakan habitat penting bagi berbagai jenis satwa liar. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari