Thursday, 22 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Dari Usaha Rumahan, Peternakan Kambing Etawa Hendri di Lampung Barat Kini Banjir Pesanan

22 October 2026 17:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 5 kali
Bagikan:
Dari Usaha Rumahan, Peternakan Kambing Etawa Hendri di Lampung Barat Kini Banjir Pesanan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Lampung Barat – Berawal dari usaha rumahan pada 2024, peternakan kambing perah jenis Etawa Kaligesing milik Hendri Gatot Sukoco di Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, kini mulai menembus pasar lintas daerah. Dengan produksi sekitar sembilan liter susu per hari, permintaan terhadap produknya terus meningkat, bahkan belum seluruhnya dapat dipenuhi.

Perkembangan usaha tersebut mendapat perhatian Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, yang mengunjungi peternakan Hendri pada Kamis (22/10/2026). Dalam kunjungan itu, Parosil menyerahkan sertifikat halal untuk produk susu kambing yang dikelola Hendri sekaligus meninjau kondisi peternakan dan proses pengolahan susu.

Parosil mengapresiasi upaya Hendri mengembangkan peternakan kambing perah hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi. Menurutnya, sertifikasi halal menjadi salah satu aspek penting untuk memberikan kepastian kepada konsumen mengenai produk yang dipasarkan.

“Ini produk susunya Pak Hendri sudah dinyatakan halal, sertifikasinya jelas. Halalan thayyiban, harganya merakyat, khasiatnya dahsyat,” ujar Parosil saat meninjau kandang kambing milik Hendri.

Hendri mulai menekuni usaha peternakan pada 2024 dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk memelihara kambing yang awalnya ditujukan untuk penggemukan. Seiring waktu, usaha tersebut dikembangkan menjadi peternakan kambing perah jenis Etawa Kaligesing yang menghasilkan susu untuk dipasarkan kepada masyarakat.

Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, jumlah ternak yang dipelihara terus bertambah. Hingga 2026, Hendri memiliki 27 ekor kambing, termasuk 12 ekor kambing betina produktif yang telah menghasilkan susu.

Dari 12 kambing betina tersebut, produksi susu mencapai sekitar sembilan liter per hari. Susu kemudian diolah sendiri menggunakan peralatan yang masih sederhana sebelum dipasarkan kepada konsumen.

Untuk harga jual, susu kambing murni dibanderol Rp40.000 per liter, sedangkan susu yang telah direbus dijual Rp60.000 per liter. Hendri juga menyediakan produk dalam kemasan botol berukuran 250 mililiter dengan harga Rp15.000 per botol.

Perkembangan usaha ini menunjukkan bahwa pekarangan rumah yang terbatas dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan apabila dikelola secara serius. Namun, peningkatan permintaan juga menuntut pengembangan kapasitas produksi dan peralatan pengolahan.

Parosil menilai usaha Hendri menjadi salah satu contoh potensi sektor peternakan dalam mendukung perekonomian masyarakat. Ia memiliki harapan perkembangan tersebut dapat mendorong warga lain untuk mengembangkan usaha peternakan, khususnya kambing perah yang memiliki nilai ekonomi.

“Jadi, hari ini Pak Bupati berkesempatan mengunjungi salah satu peternak kambing yang ada di Kabupaten Lampung Barat. Ternyata Mas Hendri ini sudah berhasil melakukan pengembangan kambing jenis Etawa Kaligesing,” kata Parosil.

Saat berbincang dengan Hendri, Parosil juga menanyakan jumlah kambing yang telah produktif menghasilkan susu. Ia menyebut terdapat 12 ekor kambing betina yang sudah berproduksi.

Menurut Parosil, tingginya minat konsumen menjadi salah satu indikator perkembangan usaha tersebut. Pasar susu kambing Hendri kini tidak hanya berasal dari Lampung Barat, tetapi juga menjangkau sebagian kabupaten dan kota lain di Provinsi Lampung.

“Alhamdulillah, produksi susu beliau sekarang ini peminatnya cukup tinggi. Pesanannya bukan hanya dari Lampung Barat. Karena sekarang sudah mulai online, ada dari Pringsewu, Bandar Lampung, termasuk Pesisir Barat. Padahal, kebutuhan untuk Lampung Barat saja belum cukup,” ungkapnya.

Pemasaran secara daring turut membuka akses kepada konsumen di luar daerah sehingga penjualan tidak hanya bergantung pada pasar lokal. Meski demikian, permintaan yang terus bertambah menjadi tantangan karena produksi saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumen, termasuk di Lampung Barat.

Selain mengapresiasi perkembangan peternakan Hendri, Parosil menilai usaha tersebut berpotensi menjadi tempat belajar bagi kelompok tani dan kelompok peternak yang ingin mengembangkan usaha serupa.

Ia memiliki harapan peternakan itu dapat dimanfaatkan sebagai lokasi edukasi mengenai pengembangan kambing Etawa Kaligesing, pemeliharaan kambing perah, hingga pengolahan susu agar memiliki nilai jual.

“Saya memiliki harapan nanti kalau ada kelompok-kelompok tani atau peternak yang berkunjung ke sini, Pak Hendri bisa memberikan edukasi dan pengetahuan tentang bagaimana mengembangkan kambing. Ini lokasinya sempit, hanya pekarangan, tetapi alhamdulillah bisa menghasilkan dan dimanfaatkan dengan luar biasa,” ujarnya.

Di sisi lain, Parosil menyoroti keterbatasan peralatan yang masih digunakan Hendri untuk mengolah susu. Proses pengolahan yang dilakukan secara manual dan tradisional dinilai perlu mendapat perhatian agar usaha tersebut dapat berkembang dan memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi.

Karena itu, ia meminta Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Barat melihat kebutuhan pelaku usaha tersebut serta mengkaji bentuk pendampingan atau fasilitas yang dapat diberikan pemerintah daerah.

“Ini menjadi pekerjaan rumah juga untuk Pak Yudha selaku Kepala Dinas Peternakan ke depan. Apa yang memang bisa dibantu dan diberikan perhatian oleh pemerintah, perlu dilihat. Karena tadi ada keluhan dari Pak Hendri, cara pengolahannya masih sangat manual, masih sangat tradisional, dan alatnya belum begitu canggih,” pungkas Parosil.

Pendampingan pemerintah diharapkan dapat membantu Hendri mengatasi kendala teknis, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas pemasaran. Dengan begitu, peternakan kambing Etawa Kaligesing yang berawal dari pekarangan rumah tersebut berpeluang berkembang menjadi usaha yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari