Monday, 14 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Riset Jepang Ungkap Potensi Sorgum Lampung, Kini Disiapkan untuk Pengembangan Bioetanol Nasional

14 September 2026 17:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Riset Jepang Ungkap Potensi Sorgum Lampung, Kini Disiapkan untuk Pengembangan Bioetanol Nasional
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

- Lampung tak hanya punya modal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Provinsi ini kini mulai diarahkan menjadi salah satu pusat pengembangan bioetanol nasional dengan memanfaatkan kekuatan sektor pertaniannya.

Optimisme itu disampaikan Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Launching Bioethanol Development Center Lampung di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Senin, 14 September 2026.

Menurut Mirza, kekuatan Lampung terletak pada sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah.

Sekitar 27 persen struktur ekonomi Lampung ditopang sektor pertanian.

Kondisi itu, kata dia, menjadi modal penting untuk mengembangkan industri energi terbarukan berbasis biomassa.

“Pertanian bukan lagi hanya menghasilkan pangan, tetapi juga energi. Bukan hanya menjual hasil panen, tetapi juga menciptakan industri," ujar Mirza.

"Dan bukan hanya menggerakkan ekonomi Lampung, tetapi ikut memperkuat ketahanan energi nasional,” sambung Mirza.

Lampung memiliki sebagian komoditas unggulan yang dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem bioetanol.

Untuk ubi kayu, Lampung berada di peringkat pertama nasional dengan produksi sekitar 7,5 juta ton.

Padi berada di peringkat keenam nasional dengan produksi sekitar 3,5 juta ton gabah kering giling (GKG).

Kemudian, jagung menempati peringkat keenam nasional dengan produksi sekitar 1,7 juta ton.

Sedangkan produksi gula kristal putih dari komoditas tebu mencapai sekitar 724 ribu ton dan menempatkan Lampung di peringkat kedua nasional.

Besarnya produksi tersebut membuat Lampung memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku.

Potensi itu kini hendak dinaikkan kelasnya dari sekadar komoditas pertanian menjadi bahan baku industri energi.

Mirza menjelaskan, komoditas pertanian Lampung tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah.

Pengembangannya harus mampu menciptakan nilai tambah, investasi, sekaligus lapangan pekerjaan.

“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Ia harus menjadi sumber nilai tambah. Harus menjadi sumber investasi dan menjadi sumber lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Karena itu, kata dia, infrastruktur dan pengembangan Bioethanol Development Center Lampung tidak hanya diarahkan menjadi fasilitas produksi.

Pusat tersebut diharapkan menjadi simpul pengembangan ekosistem yang menghubungkan pertanian, riset, teknologi, industri, dan energi.

Pengembangan sorgum juga menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut.

Mulai dari pengembangan benih, budidaya, mekanisasi pertanian, pengolahan biomassa, produksi bioetanol hingga pemanfaatan produk turunannya akan dikembangkan secara terintegrasi.

Mirza menilai, keberhasilan pengembangan ekosistem tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi Lampung tetapi juga Indonesia.

“Kalau itu berhasil, manfaatnya tidak hanya dirasakan Lampung, tetapi juga Indonesia,” ujarnya.

Pengembangan bioetanol juga dinilai membuka rantai ekonomi baru bagi petani, tenaga kerja, UMKM, dunia usaha, hingga peneliti.

Di sisi hulu, petani dapat terlibat dalam penyediaan bahan baku.

Sementara di hilir, biomassa dapat diolah menjadi bioetanol dan produk turunan lainnya.

“Inilah makna sebenarnya dari hilirisasi. Bukan sekadar mengolah bahan baku. Tetapi menciptakan nilai tambah yang kembali kepada masyarakat,” kata Mirza.

Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengungkap alasan lain mengapa Lampung dipilih sebagai lokasi pengembangan sentra bioetanol nasional.

Menurutnya, pilihan tersebut tidak terlepas dari penelusuran riset teknologi biomassa yang dilakukan di Fukushima, Jepang.

Dari kunjungan tersebut, terungkap bahwa riset enzim dan bibit sorgum unggul yang digunakan dalam pengembangan industri otomotif Jepang memiliki keterkaitan dengan riset yang dilakukan di Lampung.

“Enzim yang kita pakai di sini, kita risetnya di Lampung. Sorgum yang kita tanam di sini, bibitnya dari Lampung dan kita riset di Lampung,” ungkap Todotua.

Fakta tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan kuat untuk mengembangkan teknologi bioetanol di Indonesia, khususnya di Lampung.

Todotua juga membandingkan potensi tersebut dengan Brasil yang mampu memproduksi sekitar 38 juta kiloliter bioetanol per tahun dari singkong, jagung, dan sorgum.

Pengembangan di Brasil bahkan terintegrasi dengan peternakan melalui pemanfaatan ampas distilasi bioetanol sebagai pakan ternak.

Limbah lainnya dimanfaatkan menjadi biometana dan pupuk organik sehingga membentuk konsep ekonomi sirkular minim limbah.

Model tersebut akan menjadi salah satu gambaran pengembangan ekosistem bioetanol di Lampung.

Desember Mulai Produksi

Untuk tahap awal, Bioethanol Development Center Tegineneng ditargetkan mulai berproduksi pada Desember 2026 melalui proyek percontohan berkapasitas 60 kiloliter.

Fasilitas tersebut dilengkapi lahan demplot budidaya seluas 10 hektare.

Pusat ini akan menguji sekaligus memvalidasi keekonomian produksi bioetanol generasi pertama berbasis singkong dan sorgum.

Selain itu, akan dikembangkan bioetanol generasi kedua yang memanfaatkan limbah biomassa hortikultura dan ampas tebu.

“Development Center ini kita bangun untuk kita mengukur dari sisi komersialisasinya. Berapa harga kompetitif cost-nya yang bisa kita dapat,” kata Todotua.

Setelah tahap pengujian, pemerintah menargetkan pengembangan masuk skala komersial dengan kapasitas 60 ribu kiloliter.

Tak berhenti di fasilitas produksi, bahan baku juga akan disiapkan melalui keterlibatan kelompok tani dan koperasi lokal.

Koperasi nantinya dapat menjadi feedstock hub yang mengumpulkan bahan baku untuk kemudian diserap oleh industri.

“Harapannya kita juga bisa menyerap singkong dari masyarakat. Ada nilai tambah, tidak hanya untuk keripik atau tepung,” tutur Todotua.

Dengan skema tersebut, infrastruktur dan pengembangan bioetanol di Lampung tidak hanya berbicara mengenai energi alternatif.

Proyek ini juga membuka peluang bagi hasil pertanian Lampung untuk memiliki pasar baru sekaligus menciptakan rantai nilai dari tingkat petani hingga industri.

Pengembangan Bioethanol Development Center Lampung melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, PT Pertamina New & Renewable Energy, Toyota Group, Universitas Lampung, pemerintah daerah, serta sebagian mitra lainnya.

Dalam aktivitas tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama pengembangan agribisnis ketahanan energi dan pangan antara PT Pertamina New and Renewable Energy dan Pemprov Lampung.

Selain itu, dilakukan penandatanganan MoU pengkajian potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia.

Prosesi kemudian ditandai dengan penuangan semen perdana infrastruktur dan pengembangan fasilitas riset dan produksi, dilanjutkan dengan penanaman perdana bibit sorgum unggul di lahan demplot seluas 10 hektare. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari