Wednesday, 14 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Wanita Diterkam Buaya Saat Cuci Pakaian di Tanggamus Lampung

14 October 2026 17:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Wanita Diterkam Buaya Saat Cuci Pakaian di Tanggamus Lampung
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

(18), warga Pekon Kalisari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, menjadi korban serangan buaya saat mencuci pakaian di bantaran Sungai Way Semaka, Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.

Atas kejadian tersebut, kaki kanan korban mengalami luka gigitan serius hingga harus mendapat 24 jahitan. 

Peristiwa itu terjadi ketika Efina mencuci pakaian bersama ibunya, Poniem, dan seorang tetangga. Saat itu, korban berada di dalam air dengan kedalaman di atas lutut orang dewasa, sementara ibu dan tetangganya mencuci pakaian di atas jamban di tepi sungai.

Jarak Efina dengan ibunya hanya sekitar satu meter. Namun, kedekatan itu tidak cukup untuk mencegah serangan mendadak. Seekor buaya tiba-tiba menerkam dan menggigit kaki kanan korban.

Efina sontak berteriak histeris meminta pertolongan. Mendengar teriakan anaknya, Poniem spontan meraih tangan korban dan berusaha menariknya menjauh dari air. Ia bahkan harus berhadapan langsung dengan buaya yang masih menggigit kaki putrinya.

Aksi tarik-menarik pun terjadi. Poniem berjuang menyelamatkan anaknya di tengah situasi yang mengancam keselamatan keduanya. Upaya itu akhirnya berhasil setelah gigitan buaya terlepas.

Korban kemudian dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis. Pada Rabu (14/10/2026) pagi, Efina dijemput menggunakan ambulans guna memperoleh penanganan lebih lanjut di Puskesmas Wonosobo. Hingga berita ini ditulis, korban masih menjalani perawatan medis.

Kepala Pekon Kalisari, Kecamatan Wonosobo, Burhanuddin membenarkan peristiwa tersebut. Ia menuturkan Efina merupakan warganya yang sehari-hari membantu sang ibu mencuci pakaian di sungai.

Menurut Burhanuddin, kejadian serangan buaya terhadap warga di Pekon Kalisari baru pertama kali terjadi. Meski demikian, pemerintah pekon telah lama mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di Sungai Way Semaka karena kawasan tersebut diketahui tidak aman dan menjadi habitat buaya.

“Korban gigitan buaya benar merupakan warga kami. Peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi di pekon kami. Sebenarnya, sudah lama kami menghimbau warga agar tidak beraktivitas di Sungai Way Semaka karena tidak aman dan banyak buaya,” ujar Burhanuddin, Rabu (14/10/2026).

Ancaman serangan buaya di kawasan Sungai Way Semaka bukan persoalan baru. Berdasarkan penelusuran lapangan dan informasi mengenai kejadian sebelumnya, serangan predator tersebut telah berulang kali mengancam keselamatan warga yang beraktivitas di sungai.

Pada Mei 2025, Maryati (45), warga Pekon Sripurnomo, dilaporkan diserang buaya saat berada di Sungai Way Semaka. Sebulan kemudian, pada Juni 2025, seorang pria lanjut usia berusia 80 tahun meninggal dunia setelah diterkam buaya di sungai tersebut.

Sementara pada 2024, dua perempuan dilaporkan menjadi korban insiden buaya di kawasan Sungai Semaka; satu mengalami luka, sedangkan satu lainnya dilaporkan hilang.

Rentetan kejadian itu memperlihatkan bahwa ancaman buaya bukan sekadar kekhawatiran warga, melainkan persoalan keselamatan yang perlu ditangani secara serius.

Terlebih, sebagian masyarakat masih bergantung pada sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika sumber air di sekitar tempat tinggal mereka mengering.

Kasus yang menimpa Efina Diah Ayu Ningsih kembali menekankan pentingnya langkah perlindungan yang lebih nyata.

Selain memperkuat peringatan di titik rawan, pemerintah perlu memastikan tersedianya sumber air bersih alternatif agar warga tidak terus dihadapkan pada risiko serangan buaya saat memenuhi kebutuhan dasar.

Burhanuddin menjelaskan, beberapa sumur warga Pekon Kalisari mengering sehingga masyarakat kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK).

"Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa memanfaatkan aliran Sungai Way Semaka meskipun mengetahui adanya ancaman buaya,' ungkap Burhanudin.

Bagi warga, air merupakan kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa ditunda. Ketika sumber air di sekitar rumah tidak lagi mencukupi, sungai menjadi salah satu pilihan yang tersedia, kendati menyimpan risiko serius.

Kondisi ini memperlihatkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar kelalaian individu. Imbauan untuk menjauhi sungai memang penting, tetapi efektivitasnya juga bergantung pada tersedianya sumber air alternatif yang aman dan mudah dijangkau.

Tanpa solusi terhadap kekeringan, masyarakat tetap berpotensi menghadapi dilema serupa: memenuhi kebutuhan dasar dengan mengambil risiko atau bertahan dalam keterbatasan air.

Pasca-kejadian, Pemerintah Pekon Kalisari bersama Camat Wonosobo dan bidan desa telah melakukan mitigasi kepada keluarga korban. Imbauan agar masyarakat tidak beraktivitas di Sungai Way Semaka juga kembali disampaikan.

Namun, peristiwa yang menimpa Efina semestinya menjadi momentum untuk memperkuat langkah pencegahan. Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu mempertimbangkan penyediaan air bersih darurat bagi warga terdampak kekeringan, pemetaan titik rawan serangan buaya, serta pemasangan tanda peringatan di lokasi yang berisiko.

Koordinasi dengan instansi yang berwenang menangani satwa liar juga diperlukan untuk menilai tingkat ancaman dan menentukan langkah pengamanan yang sesuai.

"Upaya tersebut harus tetap memperhatikan keselamatan manusia sekaligus keberadaan buaya sebagai bagian dari ekosistem sungai," kata Topik, warga setempat.

Selain itu, pendataan insiden serangan buaya secara terintegrasi penting dilakukan agar pemerintah memiliki gambaran mengenai lokasi kejadian, frekuensi serangan, serta kelompok masyarakat yang paling berisiko.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan mengenai langkah konkret penyediaan sumber air alternatif bagi warga Pekon Kalisari maupun hasil evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik rawan serangan buaya di kawasan tersebut.

Kasus Efina menjadi peringatan bahwa ancaman satwa liar dan kekeringan dapat bertemu dalam situasi yang membahayakan keselamatan warga. Ketika sumber air mengering, kebutuhan dasar dapat mendorong masyarakat mendekati lokasi yang sebenarnya telah diketahui berbahaya.

Karena itu, penanganan persoalan ini tidak cukup hanya dengan meminta warga menjauhi sungai. Pemerintah juga perlu memastikan tersedianya akses air bersih yang aman agar masyarakat tidak lagi menghadapi pilihan berbahaya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Efina Diah Ayu Ningsih (18), warga Pekon Kalisari, Kecamatan Wonosobo, Tanggamus, menjalani perawatan medis setelah diterkam buaya saat mencuci pakaian di Sungai Way Semaka.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari