BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
BANDAR LAMPUNG– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II Lampung memantau peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Lampung, pada Kamis, 3 September 2026.
Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, terdeteksi sebanyak 144 titik panas yang tersebar di sembilan kabupaten/kota.
Berdasarkan data pantauan satelit (AQUA, TERRA, SNPP, dan NOAA20) periode 2 September 2026 hingga pukul 23.59 WIB, Kabupaten Mesuji menjadi daerah dengan sebaran titik panas terbanyak, disusul Kabupaten Way Kanan dan Tulang Bawang.
"Total ada 144 titik panas terfilter yang terdeteksi di wilayah Lampung dalam 24 jam terakhir," tulis laporan resmi BMKG Stasiun Meteorologi Radin Inten II Lampung, Kamis (3/9/2026).
Rincian Sebaran Titik Panas per Kabupaten:
Mesuji: 40 titik
Way Kanan: 33 titik
Tulang Bawang: 19 titik
Lampung Tengah: 15 titik
Lampung Utara: 12 titik
Tulang Bawang Barat: 10 titik
Lampung Selatan: 8 titik
Pesisir Barat: 4 titik
Lampung Timur: 3 titik
Dari total 144 titik panas tersebut, BMKG mengklasifikasikannya berdasarkan tingkat kepercayaan (confidence):
Sedang (Medium): 119 titik
Tinggi (High): 15 titik
Rendah (Low): 10 titik
Titik panas berpredikat High (tinggi) mendapat perhatian khusus karena mengindikasikan adanya potensi kuat titik api permukaan yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Selain wilayah kabupaten, BMKG juga melakukan analisis radius hotspot terhadap fasilitas vital penerbangan di Provinsi Lampung.
Hasil pemantauan menunjukkan Bandara Radin Inten II Lampung (WILL) dan Bandara Taufiq Kiemas (WILP) Pesisir Barat terpantau aman (0 titik panas) pada radius ≤ 5 km maupun ≤ 10 km.
Namun, di kawasan Bandara Gatot Soebroto (WIPO) Way Kanan, terdeteksi 3 titik panas dengan tingkat kepercayaan Tinggi (High) pada radius ≤ 10 km (antara 8,8 km hingga 9,6 km dari bandara).
Ketiga titik tersebut berada di wilayah Blambangan Umpu dan Way Tuba, Kabupaten Way Kanan.
BMKG mengingatkan bahwa data titik panas ini merupakan indikasi awal keberadaan sumber panas bumi yang terdeteksi sensor satelit. Pihaknya menyerukan Satgas Karhutla dan pemerintah daerah setempat untuk segera melakukan verifikasi lapangan (groundcheck) guna mengantisipasi bahaya kebakaran sejak dini.